Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah saya. Bukan ayah saya. Bukan pula anak saya. Saya jangan dihargai karena 'pangkat' ayah saya. Saya juga jangan 'disamakan' dengan anak saya. Akuilah saya apa adanya.

Selamat Datang di Blog Saya, Ahlan Wa Sahlan Bihudzurikum.

Semoga blog ini bermanfaat untuk Anda. Apa hal positif dari Blog ini beritahu teman. Jika ada ada yang kurang beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya. Boleh Copas asalkan mencantumkan alamat blog ini. Jazakumullah
Saya sangat berterima kasih Anda sudah berkunjung ke blog saya. Lebih berterima kasih lagi jika Anda meninggalkan komentar pada postingan saya baik berupa koreksi, persetujuan, maupun tambahan ilmu buat saya.
Jika Anda merasa puas dengan blog ini tolong beritahu teman atau saudara agar blog ini bisa lebih dikenal luas dan anda pun Insya' Alloh akan mendapatkan pahala karena menyebarkan kebaikan. Tetapi jika Anda tidak puas tolong beritahu saya. Maturnuwun. Terimakasih. Jazakumulloh khoiral jaza'

Kids Zaman Now dan Kids Zaman Semono


Metode mendidik anak dalam ajaran Islam sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan. Dari sejak zaman Nabi Muhammad dan sampai Kiamat sekali pun. Mengapa saya katakan demikian? Karena kita sesungguhnya hidup di zaman yang sama, yaitu zaman akhir. Rasul junjungan kita pun sudah menegaskan bahwa beliau adalah Rasul akhirnya zaman. Diutusnya beliau adalah juga merupakan salah satu tanda bahwa zaman hampir finish. Sehingga apa saja yang akan kita wariskan kepada anak-anak kita berupa pendidikan adalah sama dengan apa yang dulu kita dapatkan dari orangtua kita.

Kata kunci yang dapat kita pegang dalam mendidik anak dalam kurun ini adalah hadits Nabi SAW tentang fitnah akhir zaman yang akan menimpa ummat beliau. Ada banyak riwayat yang menerangkan tentang peringatan Rasûlullâh akan datangnya beberapa fitnah di akhir zaman. Tugas kita selaku orang tua maupun pendidik adalah memberi bekal agar generasi yang akan datang mampu menghadapi fitnah-fitnah tersebut. Dan bekal-bekal tersebut (yang kesemuanya sudah disampaikan oleh Nabi SAW) sudah pula diajarkan oleh guru-guru kita dan juga orangtua kita dulu.

Dari kata kunci tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa apa pun generasi yang ada dan dengan bentuk seperti apa pun mestinya harus tunduk dengan ajaran Islam. Singkatnya, zamanlah yang harus tunduk kepada ajaran Islam, bukan ajaran Islam yang direvisi demi mengadopsi perubahan zaman. Kata almarhum ustadz Zainuddin MZ: “Dimana-mana kayu harus mengikuti meteran, jika kayu kepanjangan maka kayu harus dipotong. Jadi bukan meteran yang mengikuti kayu, sehingga jika kayu tidak sesuai justru meteran yang dipotong.”

Demikian pula dengan istilah Kids Zaman Now yang sedang populer ini. Istilah ini akan menjadi aneh ketika dimaknai bahwa kita harus merubah konten pendidikan yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita karena mengikuti tren mereka atau mengikuti nilai-nilai yang sedang merambah generasi muda ini. Seolah kita harus tunduk dan menundukkan ajaran Islam demi menerima generasi kids zaman now tersebut. Namun istilah tersebut tidak menjadi masalah jika yang kita modifikasi adalah metodenya saja. Ini perlu kita tekankan karena banyak masyarakat yang menganggap bahwa dikarenakan generasi Kids Zaman Now ini maka nilai-nilai harus berubah. Ini tidak benar.

Misalnya, pacaran. Sejak zaman dulu sampai zaman kapan pun akan tetap haram hukumnya karena pacaran itu adalah perbuatan yang mendekati zina. Maka, aktivitas apa pun yang mendekati zina dilarang dalam Islam. Jangan karena alasan Kids Zaman Now lalu pacaran menjadi halal. Inilah yang tidak dimengerti oleh sebagian orangtua maupun pendidik. Sehingga mereka pun memberikan lampu hijau pada aktivitas ini. Jamak kali kita dengar kalimat: “Sudahlah, biarkanlah mereka. Maklum anak zaman sekarang!”, atau kalimat: “Ah, bapak-ibu seperti tidak pernah mengalami masa muda saja”. Hal ini tentu saja tidak bisa kita biarkan.

Zaman boleh berubah, tetapi ajaran Islam dan nilai-nilai luhurnya harus tetap sama persis. Bukankah al-Qur’an yang kita baca sekarang juga masih sama dengan al-Qur’an yang diturunkan di zaman nabi dulu? Demikian pula cara kita menafsirkan al-Qur’an mestinya juga tidak jauh beda dengan bagaimana yang dipahami oleh Rasul dan para shahabat zaman dulu. Ayat-ayat yang terbuka penafsirannya adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berubah dan berkembang.

Nah, metode pendidikan yang kita terapkan kepada anak-anak kita mestinya juga mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kids zaman now adalah generasi yang sangat akrab dengan gadget. Mereka tidak pernah lepas dan berpisah sedetik pun dengan benda modern ini. Nah, kita sebagai orangtua maupun pendidik bertugas mengarahkan penggunaan gadget tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat dan bernilai.

Gadget adalah sekedar alat. Sesuai dengan kaidah usul fiqh, bahwa sebuah alat tidak bisa dihukumi halal atau haram. Yang halal atau haram adalah penggunaannya. Sebilah pisau jika dipakai untuk memasak maka hukumnya halal, tetapi jika dipakai untuk membunuh tanpa haq maka haram hukumnya. Demikian pula dengan gadget; jika hanya dipakai untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan melalaikan maka hukumnya makruh. Jika dipakai untuk bermaksiat maka haram hukumnya. Namun jika dipakai untuk menyebarkan kebaikan dan nilai-nilai Islam maka halal hukumnya.

Oleh karena itu, kita selaku orangtua atau pendidik tidak bisa mengasingkan gadget ini dari anak-anak kita. Orangtua atau pendidik justru harus mengenalkan perangkat modern ini kepada mereka, tentu saja plus kegunaan positif yang dapat kita ajarkan kepada mereka. Menjauhkan gadget dari anak-anak bukanlah solusi. Hal ini justru lebih berbahaya karena mereka akan mengenal gadget dari teman-teman mereka. Ya kalau kebetulan mereka bertemu dengan teman yang baik. Jika mereka bertemu dengan teman yang salah, maka petakalah yang akan terjadi.

Kids Zaman Semono
Jika saat ini sedang populer dengan istilah kids zaman now, maka sebenarnya ada generasi lain yang perlu mendapat perhatian kita, yaitu generasi zaman dulu, saya menyebutnya dengan istilah kids zaman semono[1]. Dimana zaman itu masih “lebih bersih” dari zaman sekarang. Merekalah yang saat ini telah menjadi orangtua dan para pendidik yang sedang diuji untuk mengarahkan anak-anak mereka yaitu kids zaman now.

Perbedaan mendasar kedua zaman itu adalah pada perubahan kecanggihan teknologi. Misalnya perubahan atau perkembangan teknologi handphone. Dulu, HP hanya berfungsi untuk SMS dan telepon saja. Namun sekarang HP sudah memiliki fungsi yang sangat beragam. Dulu untuk bersosial atau berhubungan dengan orang lain kita harus menempuh jarak yang kadang melelahkan. Namun sekarang kita bisa berkomunikasi jarak jauh plus dapat melihat penampakan lawan bicara kita lewat video call.

Melihat perbedaan teknologi itu maka kids zaman semono harus mampu mengikuti perkembangan yang ada. Mereka tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Mereka harus up to date agar tidak mudah dikibuli oleh anak-anak mereka. Jika kids zaman now akrab dengan media sosial semisal twitter, whatsapp, instagram, facebook, dan lain-lain maka kids zaman semono pun mau tak mau harus mengikuti itu.

Bagaimana kita bisa mengecek akhlaq anak-anak kita di media sosial jika kita sendiri tidak memiliki akun media sosial? Bagaimana kita bisa mengarahkan penggunaan gadget jika kita sendiri gagap teknologi? Maka kita musti belajar banyak tentang perkembangan teknologi. Kita tidak boleh kalah dengan anak-anak kita dalam memanfaatkan teknologi. Syukur-syukur jika kita lebih pandai dan lebih mahir dari mereka, sehingga kita menjadi rujukan atau tempat bertanya anak-anak kita.

Jadi meskipun kita adalah generasi kids zaman semono tetapi kita tetap mampu hidup dan bersaing di zaman kids zaman now. Ringkasnya, kita harus mampu menjalani kehidupan dengan tetap menjalankan nilai-nilai Islam meskipun zaman berubah pesat. Dalam bahasa agamanya, Islam itu shalih likulli zamanin wa makanin. Islam itu cocok untuk zaman seperti apa pun dan tempat seperti apa pun jua. @muhsinsunym

[1] Kata “semono” adalah kosa kata bahasa jawa yang artinya waktu itu. Biasa dipakai untuk menunjukkan zaman dahulu. Zaman semono = zaman dahulu, bukan zaman sekarang.



CURRICULUM VITAE
NAMA : MUHSIN SM
T T L : KUDUS, 02 OKTOBER 1978
PEKERJAAN : GURU DI SD IT SALMAN AL-FARISI PATI
ALAMAT : PERUM TAYLON SEJAHTERA DESA TAYU KULON KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI JAWA TENGAH.
EMAIL : muhsinsuny@gmail.com
Web Blog: gurugo.blogspot.com

Artikel di atas adalah Pemenang Juara I dalam Lomba Menulis Esai tingkat Nasional yang diselenggarakn oleh Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia. Pengumuman pemenang bisa klik di sini.


Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/07/kids-zaman-now-dan-kids-zaman-semono/

Pembelajaran Terpadu dan Inovatif Solusi Mendidik diI Era ‘Kids Zaman Now'



Kids Zaman Now adalah generasi millennial, generasi yang mengisi 20-25% dari total penduduk Indonesia. Generasi ini bebas dan tak mau terikat pada suatu hal atau terkekang.  Bak burung mereka akan terbang dan singgah sebentar di sebuah sarang yang dianggap nyaman, dan kemudian terbang lagi mencari kenyamanan baru. Mereka sangat terhubung dengan dunia khususnya sosial media, dan sangat akrab dengan perubahan teknologi digital, sehingga membuat mereka sangat cepat menerima perubahan. Generasi nongkrong ini juga lebih suka kolaborasi daripada bersaing, lebih suka bekerja sebagai team, bahkan tak segan  sambil nongkrong sambil kerja, supaya relax dan fun, mal-mal yang penuh café adalah ruang kerja kebebasan mereka. Kids Zaman Now memang berbeda, sambil ngafe mereka kerja, sambil kerja mereka youtube, dan main game mobile legend, luar biasa, pulsa dan data bukan persoalan lagi, karena mereka telah berpindah dari basic need_ke psychology need (Abraham Maslow Triangle)

Sebagai orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, perlu ada perhatian sekaligus solusi sehingga tidak salah memperlakukan generasi ini. Terutama dengan memahami peran masing-masing sebagai orang yang terlibat dalam bidang pendidikan. Selanjutnya akan dibahas peran orang tua dan guru dalam mendidik generasi zaman now.

Peran sebagai orang tua; Syaikh Jamal A. dalam Islamic Parenting menyampaikan Beberapa hal yang dibutuhkan ibu dan ayah dalam mendidik anak-anak mereka:
  • Memahami bahwa pendidikan adalah taufik (karunia) dan hidayah (petunjuk) dari Allah SWT, meskipun manusia berusaha untuk menjaga hidayah anak-anaknya, namun Al-qur’an mengingatkan agar kita selalu berdo’a sebagaimana terdapat dalam (Q.S Al-Furqan : 74) ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
  • Memahami bahwa zaman adalah bagian dari ilaj (terapi). Dengan berputarnya zaman, dan potensi dikerahkan, maka hasilnya akan nampak, sesungguhnya ilmu diperoleh itu dengan belajar.
  • Memahami sarana pendidikan dan caranya, baik itu melalui situs-situs internet atau mengenal pendapat-pendapat pakan sosial dan psikolog.
Secara khusus peran orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, diantaranya:
  • Menanamkan kecintaan kepada nabi, keluarga, dan sahabatnya, serta kecintaan kepada Al-qur’an.
Mendidik generasi kids zaman now harus senantiasa diingatkan bahwa kita, punya tauladan Robbani, sehingga terhindar dari kekosongan jiwa.
  • Menganjurkan anak untuk meraih keuntungan sejak pagi buta, dengan shalat fajar berjama’ah dan duduk berdzikir kepada Allah.
  • Mendukung anak untuk menekuni bidang keahlian sesuai dengan bakatnya. Ibnul Qoyyim telah mengatakan bahwa diantara aspek yang harus diperhatikan oleh orang tua, ialah memperhatikan kondisi sang anak dan bidang yang sesuai dengan bakatnya sampai benar-benar diketahui bahwa sang anak memang berbakat dalam bidang itu.
  • Mengukuhkan hak anak untuk menuntut ilmu. Penuntut ilmu berhak memperoleh permohonan ampunan dari semua makhluk setiap kali ia pergi atau pulang dari menuntut ilmu karena merasa ridho dengan apa yang telah diperbuatnya.
  • Menananmkan sikap mandiri dan bekerja keras
Orang yang paling baik kesudahannya adalah orang yang paling lelah (Ibnu Qoyyim)
  • Memilih guru yang sholeh
Peran Guru: Pertama, Wahai guru engkau adalah penyeru (da’i)
“ Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manuasia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (Q.S. Al Imran :10)
Dalam Risalah Da’wah ( Majmu’atur Rasail, Imam Syahid Hasan Al Banna) mengingatkan bagaimana menjadi da’i di zaman modern ini yaitu dengan menjelaskan ketentuan-ketentuan Islam kepada umat manusia dengan penjelasan yang gamblang dan sempurna tanpa tambahan, pengurangan, dan kerancuan. Kemudian kita meminta mereka untuk merealisasikannya, mengkondisikan mereka, dan membimbing mereka untuk mengamalkannya.

Kedua, Guru berusaha menerapkan konsep pendidikan yang menumbuhkan
Pidato Bapak Anies Rasyid Baswedan mantan Menteri Pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2017 dalam acara Education Ekspo ASESI ( Assosiasi Sekolah Sunnah Indonesia), mengingatkan kepada kita sebagai guru untuk memahami bahwa pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah menumbuhkan, sehingga hal yang fundamental yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan iklim yang baik. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan, bayangkan seperti kita menumbuhkan biji. Bagaimana kita berusaha untuk mengelola sebuah rekayasa pendidikan dan merangsang siswa sesuai skenario yang kita buat agar biji tersebut tumbuh dengan baik.

Ketiga,  Guru memahami kewajiban kepada murid
Guru zaman dahulu hingga kini zaman now mempunyai kewajiban yang harus di pahami dan diaplikasikan, diantaranya:
  • Berniat hanya karena Allah SWT, dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya
  • Sayang kepada murid-muridnya dan memperlakukan mereka layaknya anak-anak sendiri, seperti yang sudah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW.
  • Tidak segan-segan untuk memberi nasihat kepada murid
  • Dalam memberikan pelajaran, guru berusaha menyesuaikan dengan kemampuan daya tangkap para murid dan berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
Keempat, berusaha menjadi guru inovatif dan produktif
Guru adalah pekerjaan yang berbeda dengan profesi lainnya. Setiap hari perannya mengisi jiwa-jiwa kosong untuk dibentuk dengan memberi pengaruh positif pada perkembangan psikis dan motorik siswanya. Guru bisa menyebabkan siswa senang atau tidak senang, semangat atau tidak semangat, kreatif atau tidak kreatif, inovatif atau tidak inovatif, produktif atau tidak produktif. Begitu besar pengaruh guru terhadap kejiwaan siswanya, maka seorang guru harus mencintai profesinya agar bisa membentuk kepribadian yang baik, dinamis, kreatif, inovatif, dan produktif.
Guru inovatif akan mengetahui kebutuhan siswa di zamannya, siap menerima perubahan yang mengenakkan atau perubahan yang tidak mengenakkan dirinya, selalu ada ide dalam setiap proses pembelajaran yang dia buat.

Guru harus berusaha produktif (menghasilkan karya) untuk menunjang keberhasilan dan pembentukan sikap siswa. Mendidik siswa menjadi kreatif sudah menjadi tanggung jawab guru terhadap siswa yang hidup di zaman now ini. Guru inovatif dan produktif sangat dinantikan oleh siswanya karena siswa di zaman now senantisa membutuhkan hal yang menantang dan tidak membosankan. Pembelajaran inovatif berbasis making perlu sering dilakukan oleh guru, agar kebutuhan  siswa di zaman ini bisa terakomodasi. Siswa senantiasa digiring untuk mengeksplorasikan ide-ide yang senantiasa memenuhi jiwanya. Guru di zaman ini harus mengedepankan proses pembelajaran yang melibatkan akal dan fisik secara serempak, karena menurut teori pendidikan modern, proses belajar tidak akan benar dan sempurna jika hal itu tidak terjadi. Bahkan dengan “memanfaatkan” kreatifitas siswa di zaman now, terutama dalam hal teknologi, seorang guru bisa banyak mendapatkan pengetahuan tertentu dari siswanya.

Kelima, Guru Menerapkan Standar Kurikulum Islam Terpadu
Sekolah Islam Terpadu adalah sekolah yang mencoba menerapkan pendekatan penyelenggaraan yang memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Sekolah Islam Terpadu menekankan keterpaduan dalam metode pembelajaran sehingga dapat mengoptimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Implikasi dari keterpaduan ini menuntut pengembangan pendekatan proses pembelajaran yang kaya, variatif, dan menggunakan media serta sumber belajar yang luas.

Guru Sekolah Islam Terpadu senantisa berusaha memahami dan menerapkan prinsip-prinsip yang  melandasi penyusunan kurikulum, Ibnu Khaldun (1332 – 1406) dalam Standar Mutu SIT mengungkapkan beberapa prinsip yang melandasi kurikulum, yaitu: Prinsip al-Takamul (Integritas), at-Tawazun (keseimbangan), as-Syumul (menyeluruh), prinsip orientasi pada tujuan, prinsip al-ittisal ( Kontinuitas), prinsip sinkronisasi, prinsip relevansi, prinsip efisiensi, dan prinsip efektifitas. Pada masa kini dan mendatang, kebutuhan akan ilmu tidak dapat diingkari sebagai alat atau senjata untuk menghadapai berbagai tantangan kehidupan. Guru harus senantiasa berusaha menerapkan, dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar. Setiap guru Sekolah Islam Terpadu seharusnya selalu menyadari bahwa misi pendidikan islam adalah senantiasa melakukan perubahan, yaitu mengubah kehidupan umat manusia sehingga sejalan dengan tuntutan islam.

Guru Sekolah Islam Terpadu sangat yakin bahwa penerapan konsep pembelajaran terpadu adalah solusi untuk menjawab tantangan  di zaman ini. Merealisasikan pembelajaran terpadu perlu persiapan, mulai dari merancang hingga melaporkan hasilnya. Persiapan meliputi bagaimana seorang guru berfikir dan bekerja keras dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Terpadu, mulai dari menentukan indikator spritual, pengetahuan, keterampilan  dan sikap. Selanjutnya di Tela’ah, kegiatan pembelajaran apa yang sesuai, lalu bagaimana siswa mampu mengemukakan ide-ide cemerlangnya (Eksplorasi), siswa mampu merumuskan ide-ide yang diharapkan dalam indikator pengetahuan dan sekaligus mampu mempresentasikannya kepada orang lain, dan yang sangat pentingnya bagaimana siswa mampu mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan dunia dan berguna untuk kehidupan akhiratnya kelak. Guru Sekolah Islam Terpadu sadar bahwa menerapkan konsep pembelajaran terpadu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses pembelajaran yang dilakukan butuh pengorbanan baik tenaga, waktu, dan dana yang tidak sedikit.

Kegiatan atau media pembelajaran yang dibuat haruslah berorientasi untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, berusaha membuat materi abstrak menjadi konkrit, mengeksplorasi kompetensi siswa, dan pembentukan akhlak yang islami. Bahkan tidak jarang seorang guru Sekolah Islam Terpadu rela melakukan proses pembelajaran yang menuntut perjalanan (fieldtrip) ke daerah yang membutuhkan waktu perjalanan  dan jarak tempuh yang cukup jauh, berupa perkampungan, perkebunan, hutan, dan perkotaan, dengan harapan  proses pembelajaran terpadu bisa diterapkan dengan semaksimal mungkin.

Penerapan konsep Sekolah Islam Terpadu juga tidak bisa terlepas dari kegiatan Tarbiyah Islamiyah yang berkesinambungan bagi setiap orang yang terlibat didalamnya, karena setiap guru Sekolah Islam Terpadu adalah da’i, karena Imam Syahid Hasan Al Banna sudah mengingatkan bahwa da’wah kita adalah da’wah dimana pemahaman para da’i yang senantiasa terbingkai oleh kitab Allah SWT, Sunnah Rasulullah saw, dan sejarah generasi muslim terdahulu. Guru Sekolah Islam Terpadu yakin dengan pertolongan Allah SWT, kita diberi kemudahan dalam mendidik generasi Zaman Now sekarang dan di masa depan.

Oleh karena itu penerapan kurikulum pembelajaran terpadu dan berusaha menjadi guru yang inovatif, dapat memberikan solusi dalam mendidik generasi Kids Zaman Now.



CURICULUM VITAE (CV)
Nama  :    Yurneli, S,Si
Tempat, Tanggal Lahir :    Rantau Bais (Riau) 28 Maret 1979
Pekerjaan :    Guru
Bidang Studi :    Biologi
Email:    yurneli79@gmail.com
Nama Sekolah :    SMA IT Al Fityah Pekanbaru
Alamat Sekolah :    JL. Swakarya Ujung Kel. Tuah karya, Kec. Tampan, Pekanbaru, Riau. Kode Pos : 28292

Sumber:  http://jsit-indonesia.com/#

Menjadi Guru di Era Kids Zaman Now





Beberapa dekade lalu, kita berada di era reformasi, orde baru, atau bahkan ada yang pernah mencicipi era orde lama. Masing-masing dengan keunikan dan karakteristik sendiri-sendiri, terutama apabila ditinjau dari perkembangan teknologi. Bumi berputar dan waktu terus berjalan. Masa berganti, musim telah berubah. Maka tibalah saat kita berjumpa dengan era revolusi informasi. Sebuah era di mana informasi memiliki peran penting dan menjadi kunci pada setiap pengambilan keputusan. Era yang mencerminkan  tingginya tingkat ketergantungan manusia terhadap teknologi informasi. Dan dari  era inilah lahir Generasi Z, atau yang sekarang terkenal dengan Kids Zaman Now.

Kids Zaman Now – sebuah istilah yang sebenarnya menabrak aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar – adalah anak-anak yang lahir di zaman revolusi informasi. Mereka adalah digital natives, sejak lahir sudah berinteraksi dengan alat digital berupa gawai. Karenanya, mereka mudah beradaptasi dengan perubahan teknologi dan mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dan anak-anak yang lahir  pada masa yang nyaris bersamaan, otomatis mereka saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama.

Kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi ini diperkirakan akan terus meningkat pada masa yang akan datang. Allied Business Intelligent (ABI) Research memperkirakan pada tahun 2020 akan ada lebih dari 30 miliar perangkat yang terhubung secara nirkabel (Malang Post, 19 Mei 2016). Ke depan, internet akan semakin mengubah pola hidup manusia, khususnya yang saat ini masih menjadi bagian dari Kids Zaman Now. Segala aktivitas akan banyak dilakukan dengan menggunakan internet secara online.

Perkembangan teknologi ini tentu berpengaruh pada segala aspek kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, sosial, politik, termasuk pada dunia pendidikan. Bahkan, boleh dikatakan, imbas kemajuan teknologi informasi terhadap dunia pendidikan sangat besar. Pola pendidikan yang pernah diterapkan pada dekade sebelumnya mungkin saat ini sudah usang, dan ketinggalan zaman. Pendekatan, metode, model, strategi, media, atau apapun namanya yang dulu pernah diagung-agungkan atau pernah menjadi praktik terbaik, sebagian sudah tidak relevan lagi untuk diaplikasikan pada era Kids Zaman Now. Karena itu, perubahan pada dunia pendidikan menjadi suatu keniscayaan. Guru sebagai pelaku utama pendidikan harus ikut pula menjadi bagian dari perubahan tersebut, karena perubahan pola pendidikan tidak akan ada artinya tanpa dukungan dari para pelakunya.

Bagaimana Mendidiknya
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena ia hidup bukan di zamanmu”
Perkataan yang diucapkan oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib ra ini sangat penting untuk kita jadikan acuan dalam mendidik anak. Kita tidak bisa memaksa anak untuk mengikuti model lama yang jelas-jelas sudah tidak seiring dan sejalan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, kita harus menyiapkan mereka menghadapi masa depan yang pasti berbeda dengan masa sekarang, apalagi masa lalu. Karena itu, agar tetap bisa memberikan layanan yang terbaik bagi anak didiknya di era saat ini, guru harus senantiasa meng-upgrade dan mereformasi dirinya.

Menyesuaikan dan Menjaga Diri
Mereka yang tak mampu menyesuaikan diri akan punah. Begitu adagium yang berlaku. Begitu pula guru. Guru yang tidak mampu mengikuti perkebangan zaman akan ditinggalkan oleh masyarakt. Saat ini tuntutan masyarakat sangat tinggi dan sudah selayaknya guru memenuhi dirinya dengan kualifikasi terbaik untuk menyambut tuntutan tersebut. Sudah bukan zamannya lagi guru tidak bisa mengoperasikan komputer atau tidak terhubung internet karena internet telah merasuki seluruh urat nadi kehidupan. Ia mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Pola lama dalam mendidik harus segera ditinggalkan dan beralih ke pola baru yang lebih sesuai dengan era Kids Zaman Now.

Tidak dapat dipungkiri, selain memiliki sisi positif, perkembangan teknologi juga memiliki sisi negatif. Banyak pihak yang merasa sangat khawatir akan dampak buruk interaksi anak-anak dengan gawai. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena kenakalan remaja makin beragam bentuknya seiring dengan mudahnya akses terhadap internet. Akan tetapi kekhawatiran ini tidak serta merta harus membuat guru alergi terhadap perubahan dan kemajuan. Justru tugas guru lah yang harus membentengi anak-anak dari pengaruh negatif dan mendorong mereka untuk mengambil sisi positifnya.

Setiap kemajuan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai religius dapat diambil manfaatnya semaksimal mungkin. Guru harus bisa memanfaatkan kemajuan teknologi ini dalam pembelajaran di kelas. Beragam multimedia diciptakan untuk membantu “meringankan” tugas guru. Namun demikian, guru tidak boleh kalah dengan multimedia. Multimedia boleh canggih, tapi guru harus tetap lebih canggih. Peran mendidik tidak bisa diwakilkan pada multimedia, ia adalah tugas abadi yang melekat pada diri guru.

Menyesuaikan diri dengan perubahan adalah wajib, tapi menjaga diri jauh lebih wajib. Jangan sampai karena ingin menyesuaikan diri, guru menjadi lupa dengan jati dirinya sebagai pendidik. Menyesuaikan diri bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip asasi. Bercampur tapi tidak lebur masih menjadi pilihan terbaik. Dan ini yang harus ditanamkan dalam mendidik anak-anak di era sekarang. Mereka harus mengikuti perubahan zaman, tetapi tak boleh melepaskan atribut-atribut kesalehan.

Dekat tapi Bermartabat
Memperlakukan Kids Zaman Now dengan gaya otoriter sepertinya sudah tidak akan laku lagi. Guru harus dapat lebih memahami karakter Kids Zaman Now yang pada umumnya adalah anak-anak yang sangat dipengaruhi oleh trend, tergantung pada komunitas dan bisa melakukan banyak pekerjaan sekaligus (multi-tasking) (Malang Post, 19 Mei 2016). Mereka juga merupakan anak-anak yang mengedepankan harga diri.

Di antara yang bisa dilakukan guru untuk merengkuh anak-anak  dengan karakter semacam itu adalah dengan kedekatan hubungan. Kedekatan ini penting agar anak-anak merasa nyaman berada dekat dengan gurunya sehingga mereka tidak ragu menjadikan guru sebagai sahabat. Jika guru bisa masuk ke dunia anak, maka anak tidak akan sungkan berkomunikasi dengan guru. Berbagai perilaku negatif yang dikhawatirkan muncul dari efek perubahan zaman bisa ditekan sekecil mungkin.

Kedekatan hubungan guru dengan siswa bisa dibangun dengan pola komunikasi yang baik. Meski tidak harus ikut-ikutan alay seperti Kids Zaman Now, guru tetap harus bisa mengikuti dunia mereka. Aktif di dunia maya bersama anak-anak bukanlah pilihan yang buruk, jika dengan ini anak-anak akan lebih mudah dipantau dan dibimbing. Apalagi seperti yang ditulis oleh Ihshan Gumilar, seorang Neuropsikolog, di antara perubahan psikologi yang patut diwaspadai pada Kids Zaman Now adalah lebih banyak waktu dicurahkan pada dunia virtual, sedangkan kehidupan sosial yang dilakukan secara offline sungguh sangat minim. (Republika.co.id,  23 Nov 2017). Karena itu, agar hubungan guru murid tidak terputus, suka tidak suka, guru harus mengikuti anak pergi ke dunia maya.

Meskipun guru harus menjalin kedekatan dengan murid di era Kids Zaman Now, bukan berarti guru harus kehilangan wibawanya. Guru harus tetap menjaga muruah dan martabatnya, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Dekat dengan murid tak lantas menjadikan guru maupun murid bebas melakukan apa saja. Tetap ada aturan-aturan yang membatasi, ada etika yang harus dijunjung tinggi. Jika guru mampu menempatkan diri, niscaya mereka bisa membimbing anak didiknya menjadi Kids Zaman Now yang tak larut akan eforia kemajuan teknologi.

Apapun zamannya, ruh guru tetap panglimanya
Waktu akan terus berlalu, zaman akan selalu berganti dan keadaan pasti berubah. Kemajuan teknologi akan berkembang sekian kali lipat dari saat ini. Yang saat ini kita anggap paling canggih, suatu saat pun akan ditinggalkan. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, perbincangan tentang Kids Zaman Now ini mungkin sudah basi. Karena itu sebagai guru, kita harus ikut pusaran perubahan itu.  Anak-anak didik kita, penerus peradaban ini, berhak mendapat yang terbaik dari kita, apapun zamannya dan bagaimanapun tantangannya.

Apa yang ditulis oleh KH Hasyim Asyari, ulama besar Indonesia dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’alim, masih sangat relevan untuk dijadikan pegangan bagi para guru. Aththoriqu ahammu minal madah, al mudarrisu ahammu min aththariqoh, wa ruhul mudarissu ahammu min mudarris nafsuhu. Metode lebih penting dari materi (kurikulum), guru lebih penting dari metode, dan ruh guru jauh lebih bermakna dari guru itu sendiri. Inilah bekalan yang harus senantiasa melekat pada diri guru, apakah mendidik di era Kids Zaman Now atau Zaman Tomorrow. Para guru hendaklah tetap memprioritaskan ruh, yaitu, dalam diri guru harus senantiasa melekat tanggung jawab personal, sosial dan yang paling utama, agama. Guru bukan profesi semata, tetapi merupakan jembatan menuju surga. Anak didik adalah investasi akherat, pada mereka lah guru mewariskan nilai-nilai kebaikan.

Karena itu, ruh ini harus selalu mewarnai diri guru dalam mendidik  murid-muridnya. Ruh yang hidup akan membawa muridnya pada keberhasilan. Ruh yang membara dengan semangat perbaikan akan menuntun muridnya pada keluhuran budi. Ruh yang terbungkus iman akan membawa anak didiknya menuju kejayaan peradaban. Dan ruh yang terhubung dengan RabbNya akan menghubungkan anak didiknya dengan RabbNya pula. Tak akan ada kekhawatiran mendidik di era Kids Zaman Now atau Kids Zaman Tomorrow selagi para guru berpegang pada nilai-nilai ketaqwaan yang ditumbuhkan dari ruh yang hidup dan bersandar pada keimanan.
Wallahu A’lam.


BIODATA PENULIS
Nama : Iis Nuryati, S.Pd.
Tempat/Tgl Lahir : Nganjuk, 28 Desember 1975
Pekerjaan : Guru Bahasa Inggris
Alamat Pekerjaan : SMPIT Insan Kamil Karanganyar (tergabung dengan JSIT Jateng), Jl. Kapt Mulyadi Cangakan Karanganyar Jawa Tengah 57712
Alamat Rumah : Nglano Kulon, Pandeyan, Tasikmadu, Karanganyar, Jateng

Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/05/menjadi-guru-di-era-kids-zaman-now/

Membangkitkan Fitrah Kebaikan dalam Mendidik Generasi Kids Zaman Now



Perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini, menuntut setiap orang untuk ikut mempercepat langkahnya agar tak ketinggalan. Istilah gagap teknologi pun mulai dikenal seiring dengan meningkatnya ragam produk-produk teknologi terbaru beserta aplikasi dan inovasinya. Terlalu pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini lantas mengubah seluruh tatanan kehidupan manusia yang mau tidak mau ikut terseret dalam gelombang perubahan besar-besaran tersebut.

Kekhawatiran akan fenomena gagap teknologi itu lantas memunculkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana seharusnya seseorang membuka diri terhadap perkembangan tanpa terhanyut dengan arus negatif yang menyertainya. Dalam hal ini, sosok yang paling mungkin menjadi korbannya adalah anak-anak dan remaja. Sebab secara psikologi, anak-anak adalah peniru yang hebat. Mereka juga sangat mudah mempelajari sesuatu bahkan tanpa bimbingan orang dewasa sekalipun. Sedangkan remaja yang sedang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, cenderung tidak mudah untuk mendengarkan pendapat orang lain, sekalipun pendapat itu benar.

Problematika ini tentunya membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru sebagai pihak yang dianggap paling bijaksana dalam menyikapi pengaruh globalisasi. Orang tua dan guru dituntut untuk mengikuti dan mempelajari perkembangan teknologi saat ini dalam rangka membimbing anak-anaknya agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang negatif. Sebab, pendidikan yang diberikan untuk generasi sebelum ini, sudah tidak relevan lagi untuk digunakan. Generasi masa kini atau yang marak disebut kids zaman now ini adalah generasi yang lahir dengan situasi yang berbeda 360 derajat dengan generasi sebelumnya yang masih belum terpapar efek negatif teknologi.

Dalam tulisannya yang dimuat di republika.co.id (Salim, Satiwan; 2017; http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/03/oyu6oz396-teacher-dan-parent-zaman-old-mendidik-kids-zaman-now, diakses tanggal 24 November 2017) kids zaman now didefinisikan sebagai generasi Z yang lahir di rentang tahun 1995-2010. Jika dihitung kemudian, anak-anak generasi Z ini memiliki rentang usia 7-22 tahun dan saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.  Dalam tulisan yang sama, Satiwan Salim juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data demografis pada tahun 2010, keberadaan kids zaman now ini sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional.

Artinya, generasi ini adalah generasi yang sangat besar pengaruhnya dengan kehidupan bangsa di masa mendatang. Merekalah calon pemimpin, pendidik, ekonom, ilmuwan, dokter, dan orang tua di masa depan. Merekalah yang akan menggantikan generasi pemimpin saat ini yang dididik dengan pendidikan zaman dahulu dan ditempa dengan adat istiadat serta kebiasaan zaman dahulu pula.

Jika generasi zaman dahulu diminta berlari sekuat tenaga untuk mampu mengejar pesatnya perkembangan teknologi agar tidak berakhir menjadi generasi gagap teknologi, maka generasi zaman dahulu yang saat ini tentunya sudah menjadi orang tua dan mungkin guru, juga dituntut untuk mau berlelah-lelah, bersusah payah dan barangkali jungkir balik untuk mampu mengiringi serta menuntun para kids zaman now ini untuk kelak layak menjadi pemimpin bangsa.

Mereka-mereka yang sedang duduk menatap layar sambil memainkan jarinya untuk sekedar menjadi jawara dalam permainan adalah calon pemimpin. Mereka yang sedang duduk berduaan sambil merekam adegan yang entah disebut apa dengan memakai seragam merah putih mereka adalah calon pemimpin. Dan mereka yang berada di sudut sana dan sedang sibuk dengan percakapan di akun media sosialnya adalah calon pemimpin. Mereka pastinya keras kepala, berkeinginan kuat dan sulit diatur. Karena begitulah memang karakter seorang pemimpin. Namun, apakah lantas semua akan berubah begitu saja? Akankah generasi Z itu mampu menjadi pemimpin tanpa adanya didikan untuk mereka? Tentu saja jawabannya tidak.

Orang tua dan para pendidik tentunya tidak bisa apatis saja menyaksikan begitu dahsyatnya gelombang persatuan kids zaman now yang mulai sulit dikendalikan. Ibarat layang-layang, bukan lagi angin yang menerbangkannya ke kanan dan ke kiri hingga sulit dipegang, melainkan layang-layang itu sendiri yang bergerak begitu cepatnya seakan tali kekang itu akan putus. Sehingga, ketika yang memegang tali kekang itu memilih untuk menariknya paksa, ia pun seketika putus.

Dan siapakah penarik tali kekang itu? Merekalah orang tua, guru dan masyarakat. Merekalah yang harus mampu berinovasi untuk menarik kembali layang-layang itu ke arah yang benar, tanpa harus memutusnya atau membiarkannya terbang begitu saja. Orang tua, guru dan masyarakat harus mampu mengubah secara total paradigma lama yang mereka anut dan meng-installnya dengan paradigma baru yang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib ra,

Wahai kaum muslim, didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Tidaklah lagi bisa seorang pendidik menuntut siswanya untuk duduk diam dan mendengar lalu menelan mentah-mentah ucapan gurunya. Pun tidak jua bisa orang tua secara diktator menetapkan peraturan di rumah begitu saja tanpa adanya pemberontakan jiwa maupun raga anak-anaknya. Pendidik dan orang tua adalah dua pihak yang harus memahami bahwa cara lama yang mungkin berhasil untuk mereka itu tidaklah lagi efektif untuk diterapkan. Sebagaimana penggunaan sepeda kayuh yang mulai beralih dengan kendaraan bermotor. Atau tutupnya warung telekomunikasi karena tak mampu bertahan menahan derasnya laju perkembangan teknologi ponsel pintar yang sudah bagaikan makanan pokok. Begitupula proses pendidikan lama yang mulai tergerus dahsyatnya globalisasi.

Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mampu mendidik generasi kids zaman now ini? Satu hal yang harus dipercaya adalah bahwa setiap anak memiliki fitrah kebaikan dan tentunya juga para kids zaman now. Sehingga, memberi cap mereka sebagai generasi yang sulit dikendalikan ataupun generasi yang buruk bukanlah sebuah solusi. Hal itu justru mampu menghancurkan fitrah kebaikan mereka.

Berikut ini, langkah yang dapat dilakukan dalam mendidik para kids zaman now agar kelak mereka mampu menerima beban warisan bangsa di masa depan.

Pertama, Mendidik dengan hati
Meskipun teknologi telah berhasil memenangkan hati,jiwa dan pikiran semua orang, tetap benda itu tak akan mampu sepenuhnya mengobati hati-hati yang kesepian. Meskipun para kids zaman now ini seakan bahagia dengan kesibukannya bersama alat teknologinya, sejatinya mereka tetap merindukan belaian, pelukan, tatapan cinta dan perhatian dari sosok orang tua dan pendidik mereka.

Mendidik generasi Z harus dengan hati yang tulus. Tatap mata mereka ketika berbicara, sejajarkan tubuh agar mereka tak merasa digurui, berikan sentuhan jika itu memungkinkan dan bicaralah dengan hati. Akuilah mereka, dengar mereka dan libatkan hati untuk sepenuhnya memberi perhatian pada mereka.

Biarkan mereka bicara tentang apa saja yang mereka impikan, pikirkan, inginkan, bahkan meskipun itu tidak penting, aneh atau bahkan adalah sebuah kesalahan besar. Tetap, dengarkan dengan hati!

Kedua, Hargailah Mereka
Beri perhatian pada apa yang mereka sukai. Hargai jika mereka baru saja memenangkan sebuah pertandingan dalam permainan jika yang sedang diajak bicara adalah generasi gamers. Jalinlah komunikasi dengan mereka dengan banyak mencari tahu tentang apa-apa yang mereka sukai, agar komunikasi yang terjalin bisa lebih mudah mengalir. Jangan sampai ada batas antara orang tua dan anaknya, pun dengan guru dan siswanya. Sehingga, jika hal itu berhasil dilakukan, anak-anak dan remaja akan mudah untuk diarahkan dan diingatkan jika mereka keliru.

Ketiga Libatkan mereka dengan memberi mereka peran
Kadangkala usaha orang tua maupun guru untuk menjalin komunikasi dengan anak tidak berjalan dengan mudah. Salah satunya adalah karena sulitnya meruntuhkan batas antara menjadi orang tua, pendidik atau menjadi sahabat untuk anak. Cara yang paling mungkin untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mencoba melibatkan mereka dalam permasalahan yang dihadapi khususnya permasalahan dalam keluarga.

Walaupun maksud orang tua untuk tidak melibatkan anaknya dalam permasalahan keluarga adalah baik, agar anak tidak ikut memikirkan hal yang berat dan fokus pada sekolahnya. Namun, kadangkala hal tersebut secara tidak langsung menimbulkan jarak antara orang tua dan anak. Anak merasa kurang dihargai, apalagi jika ia sudah memasuki usia remaja. Mereka cenderung ingin dianggap penting.
Apalagi anak-anak generasi kids zaman now ini sangat mudah mengakses informasi-informasi yang menyebabkan mereka cenderung lebih cerdas untuk mampu memahami situasi. Jika orang tua tidak mampu menyembunyikan ekspresi dan mimik mereka ketika menghadapi masalah, anak akan dengan mudah membacanya. Dan jika mereka tidak dilibatkan tentu akan membuat mereka merasa terasing bahkan semakin terbebani.

Ajaklah mereka berdiskusi dan ijinkan mereka untuk mengemukakan pendapat. Agar mereka merasa dianggap “ada” di dalam rumahnya sendiri dan tidak mencoba mencari kesibukan lain di luar yang seringkali sulit diamati orang tua. Dalam hal ini, orang tua perlu memilah-milah pula, masalah apa yang sebaiknya disampaikan ke anak, Jika memang terlalu rumit dan besar, barangkali cukup disampaikan secara umum terlebih dahulu. Dan tentunya perlu menyesuaikan dengan usia dan emosi anak pula.

Dikutip di republika.co.id (Hapsari, Endah; 2012; http://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/12/09/09/ma2jf0-bolehkah-orang-tua-curhat-pada-anak, diakses 24 November 2017), hal yang perlu dipertimbangkan orang tua sebelum curhat ke anak, diantaranya :
  • Usia, kemampuan berpikir, kehidupan emosi dan perasaan anak.
Hasil penelitian tentang pengasuhan yang dilakukan di luar negeri menunjukkan bahwa masalah keuangan sebaiknya tidak dibicarakan atau tidak ditunjukkan pada anak di bawah usia 6 tahun.
  • Penggunaan kalimat saat menjelaskan
Orang tua berkewajiban memberikan penjelasan sesuai usia anak tentang apa yang terjadi dengan kalimat pendek, tetapi jelas. Misalnya, jika mempunyai anak usia 3 tahun yang menyaksikan pertengkaran kecil antara Ibu dan Bapak. Setelah itu selesai, Ibu mencoba mengendalikan emosi dan mengatakan pada anak dengan suara rendah, ”Maaf ya Nak, tadi suara Mama dan Ayah jadi tinggi. Kami agak marah, ada yang kurang cocok pikirannya.”

Kalau anak sudah sedikit lebih besar, kita dapat menambahkan, ”Hal seperti ini biasa terjadi antara orang dewasa!.” Ini penting dilakukan agar anak mengerti apa yang terjadi dan untuk meredakan ketegangan dan kecemasan yang dimilikinya.
  • Keadaan dan situasi anak
Keadaan dan situasi anak juga perlu dipertimbangkan. Jangan melibatkan anak bila mereka sendiri sedang dalam atau menghadapi banyak masalah. Cara penyampaian masalah juga penting. Hindari menyampaikannya ketika emosi kita sedang tinggi. Sehingga kawatir jalan keluar yang diperoleh juga tidak atau kurang bijaksana.

Keempat Beri konsekuensi bukan sanksi
Jangankan kids zaman now, para orang tua dan juga pendidik ketika masa kecil dahulu tentunya tidak nyaman saat diberi hukuman tanpa kesepakatan terlebih dahulu. Ketika pulang terlambat atau berkelahi dengan saudara, tiba-tiba diberi hukuman seperti dipukul atau dipotong uang sakunya padahal sebelumnya tidak pernah diajak untuk berdiskusi terkait kesepakatan tersebut, tentunya menimbulkan kekesalan di dalam hati.

Kids zaman now yang cenderung lebih up to date terhadap banyak hal, pastinya akan lebih mudah protes ketimbang ketika orang tuanya masih kecil dulu. Anak-anak zaman dulu biasanya nurut dengan orang tua karena takut. Sedangkan anak zaman sekarang cenderung berani dalam mengemukakan pendapat mereka, terutama jika mereka merasa benar.

Meskipun di satu sisi terkesan bahwa mereka kurang sopan, namun jika diamati dari sisi positifnya, kids zaman now adalah anak-anak yang kritis yang hanya perlu diarahkan dan diajarkan tentang adab dalam menyampaikannya saja. Karena itu, dalam memberi sanksi kepada kids zaman now, orang tua maupun guru tidak lagi bisa menerapkan metode lama.

Anak-anak sebaiknya tidak diberi sanksi, melainkan diberi konsekuensi yang sudah disepakati bersama sebelumnya. Misalnya di suatu waktu, anak-anak diajak berdiskusi tentang apa-apa saja yang tidak boleh untuk mereka. Biarkan mereka menentukan sendiri konsekuensinya dan orang tua hanya tinggal mengingatkan saja jika anak melakukan kesalahan. Biarkan mereka mengingat sendiri konsekuensi apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Kelima Terima mereka apa adanya, bimbing untuk menjadi lebih baik dan doakan mereka.
Dalam sebuah postingan yang ditulis Harry Santosa di akun media sosialnya (Santosa, Harry; 2017; https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10214453990573684, diakses 24 November 2017), ada tulisan yang menarik untuk direnungkan pada orang tua maupun guru. Salah satu baitnya adalah orangtua mengeluh anak gadis atau anak perjakanya males gerak atau kecanduan game Padahal secara fitrah tiap anak sejak bayi sangat suka bergerak dengan antusias dengan tubuh yang luwes .Orangtuanyalah dulu yang menyuruhnya banyak diam agar segera berstatus “shaleh” dan memberinya gadget agar diam

Artinya, secara tidak sadar, orangtualah yang membentuk kepribadian anak, namun ketika kepribadian itu sudah melekat, orang tua justru tidak mau menerima dan malah menyalahkan anak.
Dalam postingan yang sama, Harry santosa juga mengajak para orang tua untuk bertaubat, banyak berdoa agar Allah mengembalikan fitrah anak anak. Sebagaimana tercantum dalam hadits,

“Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Artinya, anak-anak sebenarnya memiliki fitrah-fitrah kebaikan, termasuk para kids zaman now yang mungkin fitrah kebaikannya sedang terganggu oleh derasnya arus teknologi dan informasi yang tidak mampu tersaring lagi. Dan kenyataan bahwa mereka masih menyimpan fitrah kebaikan itu adalah sebuah penyemangat bagi para orang tua maupun guru untuk terus berusaha memperbaiki dan mendoakan anak-anak khususnya generasi saat ini, agar mereka bisa kembali pada fitrah mereka.

Sebagai pendidik di masa kini, sepatutnya guru dan orang tua tidak berputus asa menghadapi generasi Z yang sudah terlanjur terpapar dengan kejamnya perubahan zaman. Sebagaimana firman Allah dalam surah Az Zumar ayat 53

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Barangkali diantara para generasi Z tersebut, ada anak-anak yang tidak terpenuhi fitrahnya semasa kecil. Semasa dimana Rasulullah SAW menganjurkan kepada orang tua untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak.

Jika di masa-masa emas tersebut anak-anak tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan, tentunya akan ada gejolak yang terjadi di masa berikutnya, ketika merika berusia 7 tahun ke atas. Itulah salah satu hal yang menyebabkan generasi Z atau generasi era kids zaman now menjadi sangat istimewa. Sebab mereka tidak hanya diuji dengan derasnya arus negatif teknologi, tetapi juga kurang dibekali dengan keimanan dan kasih sayang ketika masa kanak-kanak.

Namun, tentunya para pendidik, khususnya orang tua tidak lantas menyibukkan diri dengan menyesali apa-apa yang sudah terlewat. Meskipun masa-masa bersama anak tidak akan mungkin pernah terulang, namun menyesali tidak akan bisa mengubah semua yang telah terjadi. Yang perlu dilakukan orang tua maupun guru untuk mengubahnya adalah dengan me-reinstall cara mendidik anak-anak generasi kids zaman now ini. Ulangi proses-proses yang sempat terlewat dan lakukan perbaikan secara perlahan.

Yakinlah, insyaAllah, generasi anak-anak masa kini masih punya masa depan yang cerah dan cemerlang selama para guru, orang tua dan masyarakat mau peduli dan bahu membahu untuk mendidik dan mendampingi mereka dalam menghadapi kerasnya ujian di era teknologi informasi ini. Dan tentunya diperlukan kerjasama yang harmonis diantara para pendidik, agar fitrah kebaikan dalam diri anak-anak yang telah terpendam lama dapat tumbuh dan bersemi kembali.

Irasari Sevi Widya H, S.Pd


  • Pemenang Juara Harapan 1 Lomba Esai dalam rangka Hari Guru Nasional 2017 JSIT Indonesia
  • Penulis adalah seorang guru IPA di SMPIT Al Khawarizmi Tanah Grogot Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Aktivitas ini telah ditekuni sejak tahun 2011 hingga saat ini. Ibu dari 1 putri ini hobi menulis sejak SMA dan telah menulis beberapa antologi bersama rekan-rekan penulis lainnya
 Sumber: http://jsit-indonesia.com/2017/12/04/membangkitkan-fitrah-kebaikan-dalam-mendidik-generasi-kids-zaman-now/

#Alhamdulillah Akhirnya Juara I :)



 Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Umum JSIT Indonesia No. 023/SK/JSIT/XII/2017 tentang Hasil Penilaian Lomba Menulis Esai dalam rangka Hari Guru Nasional 2017, telah diputuskan  bahwa para pemenang lomba sebagai berikut:

  1. Juara 1 atas nama Muhsin SM, guru SDIT Salman al Farisi Pati, Jawa Tengah dengan judul esai: Kids Zaman Now vs Kids Zaman Semono
  2. Juara 2 atas nama Yurneli, S.Si, guru SMAIT Al Fityah Pekan Baru Riau dengan judul esai: Pembelajaran Terpadu dan Inovatif Solusi Mendidik di Era Kids Zaman Now.
  3. Juara 3 atas nama Iis Nuryati, S.Pd, guru dari SMPIT Insan Kamil Karang Anyar Jawa Tengah dengan judul esai: Menjadi Guru di Era Kids Zaman Now.
  4. Juara  Harapan 1 atas nama Irasari Sevi H, S.Pd, guru dari SMPIT Al Khawarizmi Tanah Grogot, Kalimantan Timur dengan judul esai: Membangkitkan Fitrah Kebaikan dalam Mendidik Generasi Kidz Zaman Now

  • JSIT Indonesia mengucapkan selamat pada para pemenang.
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
  • Semua tulisan akan menjadi hak JSIT utk kepentingan dakwah berbasis pendidikan.
  • Terima kasih pada seluruh para peserta yg telah mengirim naskahnya.
  • Jangan patah semangat. Teruslah mendidik di era kids zaman now.
  • Selanjutnya, kami akan menghubungi para pemenang utk pemberian hadiah.
Depok, 3 Desember 2017
Ketum JSIT Indonesia
M.Zahri, M.Pd. 


Sumber : http://jsit-indonesia.com/pengumuman-pemenang-lomba-essai/
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger