Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah saya. Bukan ayah saya. Bukan pula anak saya. Saya jangan dihargai karena 'pangkat' ayah saya. Saya juga jangan 'disamakan' dengan anak saya. Akuilah saya apa adanya.

Selamat Datang di Blog Saya, Ahlan Wa Sahlan Bihudzurikum.

Semoga blog ini bermanfaat untuk Anda. Apa hal positif dari Blog ini beritahu teman. Jika ada ada yang kurang beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya. Boleh Copas asalkan mencantumkan alamat blog ini. Jazakumullah
Saya sangat berterima kasih Anda sudah berkunjung ke blog saya. Lebih berterima kasih lagi jika Anda meninggalkan komentar pada postingan saya baik berupa koreksi, persetujuan, maupun tambahan ilmu buat saya.
Jika Anda merasa puas dengan blog ini tolong beritahu teman atau saudara agar blog ini bisa lebih dikenal luas dan anda pun Insya' Alloh akan mendapatkan pahala karena menyebarkan kebaikan. Tetapi jika Anda tidak puas tolong beritahu saya. Maturnuwun. Terimakasih. Jazakumulloh khoiral jaza'

Benarkah Hadits Tidak ditulis pada Zaman Nabi?



Kebanyakan orang Ingkar Sunnah selalu memakai dalil dalam rangka menolak keberadaan hadits  dengan menyatakan bahwa Rasulullah  melarang penulisan hadits. Jadi siapa yang masih berpegang pada hadits berarti berkhianat pada Rasulullah SAW. Hadits pelarang yang dimaksud tersebut adalah sebagai berikut:
مسند أحمد - عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ وَمَنْ كَتَبَ شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ.
Dari Abu Sa’id ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian menulis sesuatu dariku selain al-Qur’an. Siapa yang menulis sesuatu dariku  selain al-Qur’an maka hendaklah ia menghapusnya.” (Musnad Ahmad Juz 22 Halaman 208 Nomor 10663)
Memang hadits ini menceritakan tentang larangan Rasulullah SAW terhadap penulisan kalimat yang keluar dari mulut beliau selain al-Qur’an. Namun dalam riwayat lain justru Rasulullah menyuruh kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash untuk menulis apa saja yang keluar dari mulut beliau:
سنن أبى داود - عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنْ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr ia berkata: Aku menulis semua yang kudengar dari Rasulullah SAW untuk kuhafalkan lalu orang-orang Quraisy mencelaku dan mereka berkata: Apakah kamu menulis semua yang kamu dengar dari Rasulullah SAW? Padahal ia adalah manusia biasa yang berbicara dalam keadaan marah dan keadaan gembira? Maka aku pun berhenti menulis hingga aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW. Maka beliau memberi isyarat dengan jari tangan ke mulut beliau sambil bersabda: “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak keluar dari mulutku ini kecuali sesuatu yang benar.” (Sunan Abu Daud Juz 10 Halaman 55 Nomor 3161).
Hadits ini jelas menunjukkan bahwa Rasulullah menyuruh kepada ‘Abdullah bin ‘Amr agar menulis apa saja yang keluar dari mulut beliau. Menurut Dr. Izzuddin Husain as-Syekh, hadits ini juga menasakh atau membatalkan hadits pertama yang melarang menulis hadits. (Dr. Izzuddin Husain as-Syekh, Menyikapi Hadits-Hadits yang Saling Bertentangan”, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004), hal. 114-116.
Nabi Saw. mengizinkan Abdullah bin Amr bin Ash menulis hadits karena ia telah bisa membaca dan menulis. Naskah Abdullah bin Amr dinamai Shahifah Shadiqah /Buku yang benar karena ditulis langsung dari Nabi Saw. Naskah ini berisi sebanyak 1000 hadis dan dihafal serta dipelihara oleh keluarganya sepeninggal penulisnya. Cucunya yang bernama ‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan hadis-hadis tersebut sebanyak 500 hadis.
Bila naskah Shadiqah tidak sampai kepada kita menurut bentuk aslinya maka dapatlah kita temukan secara kutipan pada kitab Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’I, Sunan At-Tirmuzi dan Sunan Ibnu Majah.
Ibnu Taimiyah mengatakan: “Pada awalnya memang dilarang menulis hadits, akan tetapi setelah hadits-hadits Nabi SAW itu sangat banyak dan perlu dijaga dengan ditulis. Saat itu kekhawatiran hadits-hadits Nabi SAW itu akan bercampur baur dengan ayat-ayat al-Qur’an dan ucapan manusia biasa sudah dapat dijamin keterpeliharaannya. Terutama setelah turun ayat 9 Surah al-Hijr: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” Maka dibolehkanlah menulis hadits. Keperluan menulis hadits juga dilakukan dalam rangka menjaga adanya upaya pemalsuan hadits.

Akibat Ingkar Sunnah (2)

Di dalam al-Qur'an kita diperintahkan untuk berwudlu ketika hendak mengerjakan shalat. Perintah tersebut termaktub di dalam Surah al-Ma'idah Ayat 6:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur."


Namun di dalam al-Qur'an tidak dijelaskan perihal hal-hal yang membatalkan wudlu. Penjelesan tentang hal apa saja yang bisa membatalkan wudlu hanya bisa kita dapatkan di dalam al-Hadits. Maka orang yang hanya berpedoman kepada al-Qur'an saja akan kebingungan. Saya pernah dialog hal ini dengan salah satu orang Ingkar Sunnah,

Sy: "Berarti ketika Anda sholat, kemudian tiba-tiba Anda kentut dengan suara keras dan berbau pasti Anda akan terus melanjutkan sholat? Begitu? Kan al-Qur'an tidak menjelaskan kepada Anda bahwa kentut itu membatalkan Sholat?"

IS: "Ya, karena kentut itu tidak indah maka saya membatalkan sholat dan kemudian berwudlu lagi dong."

Sy: "Lho, katanya tidak mau melakukan sesuatu jika tidak ada dasarnya di dalam al-Qur'an. Masak sekarang pakai dalil "karena tidak indah". Berarti ada dalil seni (indah; tidak indah) selain al-Qur'an ya? Masak al-Hadits dibuang tapi seni yang tidak berdasar dalil dipakai?"

IS: "........"

Jadi siapapun sekarang yang masih HANYA memakai al-Qur'an saja dan membuang jauh-jauh al-Hadits silahkan introspeksi diri dan bertaubat sebelum ajal menjemput. Allahumaghfir lahum. Amin.

Hamaas Kartasura desak kajian ingkar sunnah dihentikan

Solo Pos, Kamis Wage 23 November 2006

Kartasura (Espos)

Himpunan Masyarakat Anti Aliran Sesat (Hamaas), Perguruan Tapak Suci Putra Muhammasiyah Cabang Kartasura dan segenap elemen masyarakat muslim di wilayah Kartasura, Sukoharjo meminta kajian yang mereka nilai ingkar sunnah yang diusung Drs. Minardi Mursyid dari Yayasan tauhid Indonesia (Yatain) dihentikan.
Demikian dikemukakan Sekretaris Tapak Suci Putra Muhammadiyah Cabang Kartasura, Budi Santoso dalam dialog yang digelar di Kantor Desa Gumpang, Kartasura, Rabu (22/11).
Dalam dialog yang dimoderatori Camat Kartasura, Sumarsono, Budi menyatakan kemurnia ajaran Islam telah dilecehkan Minardi dengan menolak keberadaan al-Hadits sebagai sumber hukum agama Islam selain al-Qur'an.
"Akhir-akhir ini sedang terjadi pendangkalan akidah terhadap umar Islam yang dilakukan secara serius dan sistematis dengan mengadakan kajian-kajian di beberapa tempat di Solo dan sekitarnya. Pendangkalantersebut dilakukan sang pemateri yang sering dipanggil Mbah Min," ujar Budi.
Budi mengatakan, pada bulan Ramadhan lalu Minardi pernah mengisi acara kajian Ahad pagi di MQ FM Solo. Namun, lanjut Budi, kajian tersebut kemudian dihentikan manajemen MQ FM atas permintaan dari MUI Solo, masyarakat dan sebagian ustadz yang menilai isi kajian tersebut telah menyesatkan.
"Kajian tersebut dihentikan karena isi ceramahnya yang ngawur, tidak berpedoman pada ilmu fikih. Mbah Min telah menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an dengan seenaknya tanpa menyitir pendapat para ulama besar. Kami mendesak ajaran tersebut dihentikan," papar Budi.
Sementara itu, dari pihak Yatain, Minardi membantah keras adanya penyalahtafsiran ayat-ayat al-Qur'an. Minardi mengemukakan hal itu hanya merupakan perbedaan pendapat yang menurutnya wajar terjadi pada penafsiran isi al-Qur'an. Setiap umat Islam, menurut Minardi, akan memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan isi kitab suci.
"Untuk menanggapi permintaan dari segenap masyarakat yang hadir dalam dialog ini, dari pihak Yatain, dengan ini menyatakan tidak akan lagi mengadakan kajian al-Qur'an di wilayah Gumpang."
Merasa tidak puas dengan pernyataan yang diambil Minardi, Koordinator Hamaas Kartasura, Aris Adenata, meminta pihak Yatain untuk membuat pernyataan tertulis yang harus ditandatangani. Namun dari pihak Yatain menolak.
Pada akhir dialog, Sumarsono mengimbau kepada kedua belah pihak untuk mengadakan pendekatan secara persuasif, mengingat pada saat ini tengah berlangsung pemilihan kepada desa (Pilkades) di Kabupaten Sukoharjo.
"Kami berharap kedua belah pihak tetap menjaga kondisi yang kondusif. Bila ingin menyelesaikan permasalahan ini, hendaknya dicari solusi yang terbaik demi menjaga keamanan di lingkungan kartasura," tegas Sumarsono. (m46).


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger