Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah saya. Bukan ayah saya. Bukan pula anak saya. Saya jangan dihargai karena 'pangkat' ayah saya. Saya juga jangan 'disamakan' dengan anak saya. Akuilah saya apa adanya.

Selamat Datang di Blog Saya, Ahlan Wa Sahlan Bihudzurikum.

Semoga blog ini bermanfaat untuk Anda. Apa hal positif dari Blog ini beritahu teman. Jika ada ada yang kurang beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya. Boleh Copas asalkan mencantumkan alamat blog ini. Jazakumullah
Saya sangat berterima kasih Anda sudah berkunjung ke blog saya. Lebih berterima kasih lagi jika Anda meninggalkan komentar pada postingan saya baik berupa koreksi, persetujuan, maupun tambahan ilmu buat saya.
Jika Anda merasa puas dengan blog ini tolong beritahu teman atau saudara agar blog ini bisa lebih dikenal luas dan anda pun Insya' Alloh akan mendapatkan pahala karena menyebarkan kebaikan. Tetapi jika Anda tidak puas tolong beritahu saya. Maturnuwun. Terimakasih. Jazakumulloh khoiral jaza'

Hidayat Nur Wahid: Perdekatan Persuasif tak Tepat untuk Kasus Makar di Minahasa


Jakarta. Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, makar yang terjadi di Minahasa memanfaatkan isu penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut dia, kondisi perpecahan tersebut, adalah lanjutan bentuk provokasi atas vonis yang diterima Ahok.

“Ini sebuah kondisi yang menunggangi isu Ahok, karena dilakukan dengan provokasi (jika) Ahok ditahan, ya (maka) Minahasa merdeka,” ujarnya Selasa (16/5).

Menurut HNW, masalah yang dibawa Ahok dijadikan alasan untuk melakukan sparatisme. Makar dengan menunggangi isu vonis Ahok, dia mengatakan, merupakan sebuah kejahatan. “Menunggangi kasus Ahok untuk kepentingan separatisme adalah sebuah kejahatan,” jelasnya.

Seharusnya, kata dia, polisi betul-betul meluruskan tindakan makar demi tegaknya hukum di NKRI. “Ini sudah jelas-jelas akan melakukan tindakan kemerdekaan, tapi justru Kapolri malah mengatakan akan melakukan pendekatan persuasif,” tegas HNW.

HNW menilai, pendekatan persuasif yang dipilih Polri untuk kasus makar Minahasa adalah langkah yang tidak tepat. Pendekatan tersebut, kata dia, justru satu pendekatan yang tidak mencerminkan tentang adanya keadilan. Dilansir republika.co.id

Psywar di Balik Pembubaran HTI


Psywar di Balik Pembubaran HTI
By:Nandang Burhanudin
(1) Saya tidak terlalu serius menanggapi pernyataan Wiranto soal pembubaran HTI. Sebab di era rezim raisoopo-opo, apapun tidak ada yang perlu dianggap serius, selain operasi menjual Indonesia dan patuh sepenuhnya pada Asing-Aseng.
(2) Jika mau jujur, kehandiran HTI sebenarnya menguntungkan kalangan Islamis. Terutama di pengajian marhalah 1-2. Tapi menguntungkan kalangan Liberal, Sekuler, dan Islamophobia di marhalah 3 dan selanjutnya. Mengapa?
(3) Marhalah awal di HTI, sangat bagus untuk shock theraphy pemikiran. Terutama di bab kajian problematika umat. Tapi biasanya akan mentok di permasalahan solusi. Terutama jika dikaitkan dengan pendirian khilafah.
(4) Di fase selanjutnya, HT yang sangat antipati dengan apapun yang berbau demokrasi. Tentu sangat menguntungkan kalangan Islamphobia, terutama dalam kondisi lomba perolehan suara. Paham antidemokrasi menyuburkan golput di kalangan Islamis.
(5) Kendati demikian, saya tidak mendukung cara pemerintah yang tidak demokratis dalam wacana pembubaran HTI. Maka patut dicurigai, ada apa sebenarnya di balik sandiwara pembubaran HTI?
(6) Saya menemukan jawabannya, pemerintah Jokowi dan timnya sedang meniru langkah Korea Utara saat membunuh 1000 tentara AS, ketika perang berkecamuk di semenanjung Korea.
(7) Cara yang ditempuh Korut, sangat unik. Para tawanan diberikan fasilitas mewah. Logistik cukup. Penjara yang luas, tanpa pagar tinggi. Bahkan semua diberi kebebasan berkomunikasi. Lalu apa yang dilakukan?
(8) Hanya 3 poin saja. Pertama: Semua penghuni penjara dijejali berita buruk dan busuk. Kedua: Semua diberi kesempatan mengungkapkan pengkhianatan masing-masing di hadapan umum. Ketiga: Sesama penghuni penjara diberi kebebasan memata-matai.
(9) Menjejali berita buruk adalah perang psikologi untuk menjatuhkan mentalitas rakyat, terutama kalangan Islamis. Mulai dari isu korupsi, pelanggaran seks, hingga penista Al-Qur’an yang diperlakukan istimewa.
(10) Semua menjadi bumbu pedas di samping berita penembakan polisi saat razia, kenaikan harga-harga, listrik meroket, premium hilang, gas mahal, pajak mencekik, pelanggaran rezim terhadap konstitusi, dll.
(11) Kemudian cara mengungkap kebusukan di hadapan publik. Bahkan semua dipertontonkan secara gratis. Pesan yang ingin disampaikan, jadilah penjilat jika mau selamat. Menjilatlah, anda jadi hebat!
(12) Adapun operasi saling meng-inteli, adalah cara ampuh mengobarkan proxy war antar sesama ormas. Politik belah bambu, politik yang membuat Belanda dan penjajah sukses mengangkangi negeri Muslim.
(13) Jadi, wacana pembubaran HTI sebenarnya sinyal bahwa Islamis tidak akan diberi ruang dan peran saat rezim raisoopo-opo ini berkuasa. Lalu mengapa HTI yang menjadi korban? Sebab HTI adalah paling lemah.
(14) HTI menunda jihad sebelum tegaknya khilafah. HTI menjadi organisasi yang senang mencubit saudara-saudara sesama Islamis. Sebut saja kalangan Tarbiyah pro demokrasi, selalu menjadi korban kegenitan HTI.
(15) HTI juga minim teman dari kalangan ormas semisal Muhammadiyah, NU, Persis, PUI, Al-Irsyad. Jenis kelamin HTI juga sedikit ambigu. Hizb adalah partai, tapi tidak aktif di ranah politik. Namun kajiannya politis.
(16) Tapi sekali lagi, pembubaran HTI bukan solusi. Sebagai Muslim kita harus menolaknya! Pembubaran ormas hanyalah operasi senyap membunuh pelan-pelan ruh perlawanan umat Islam.
(17) Saya bersama HTI, jika dibubarkan oleh rezim yang telah terbukti lebih banyak korup dan memperjualkan nasionalisme sempit demi seongok materi. Waspadalah!
Sumber: http://nandang.me/2017/05/psywar-di-balik-pembubaran-hti/

TERTEGUN DI HADAPAN IMAM NAWAWI


.- Apa yang mau kita sombongkan; jika Imam An Nawawi menulis Syarh Shahih Muslim yang tebal itu sedang beliau tak punya Kitab Shahih Muslim?

.- Beliau menulisnya berdasar hafalan atas Kitab Shahih Muslim yang diperoleh dari Gurunya; lengkap dengan sanad inti & sanad tambahannya.

.- Sanad inti maksudnya; perawi antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Sanad tambahan yakni; mata-rantai dari An Nawawi hingga Imam Muslim.

.- Jadi bayangkan; ketika menulis penjabarannya, An Nawawi menghafal 7000-an hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim sekitar 9 - 13 tingkat Gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 5-7 tingkat Rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran itu disertai perbandingan dengan hadits dari Kitab lain (yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya), penjelasan kata maupun maksud dengan atsar sahabat, Tabi'in, & 'Ulama; munasabatnya dengan Ayat & Tafsir, istinbath hukum yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

.- Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya.

.- Hari ini kita jumawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, & tak malu sedikit-sedikitbertanya pada Syaikh Google.

.- Kita baru menyebut 1 karya dari seorang 'Alim saja sudah bagai langit & bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karyanya yang hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana kita mengerti kepayahan pada zaman mendapat 1 hadits harus berjalan berbulan-bulan?

.- Bagaimana kita mencerna; bahwa dari nyaris 1.000.000 hadits yang dikumpulkan & dihafal seumur hidup; Al Bukhari memilih 6000-an saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan al-Bukhari; tidakkah kita renungi; mungkin semua ucap & tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

.- Kita baru melihat 1 sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah & berhias luka di medan jihad. Mereka kadang harus berhadapan dengan penguasa zhalim & siksaan pedihnya, si jahil yang dengki & gangguan kejinya. Betapa menyesakkan.

.- Kita mengeluh listrik mati atau data terhapus; Imam Asy Syafi'i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dipaksa jalan kaki Shan'a-Baghdad.

.- Kita menyedihkan laptop yang ngadat & deadline yang gawat; punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi & petang hanya karena 1 kalimat.

.- Kita berduka atas gagal terbitnya karya. Sedang Imam Al Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan hingga menjelang ajal agar terhindar dari puja.

.- Mari kembali pada an-Nawawi & tak usah bicara tentang Majmu'-nya yang dahsyat & Riyadhush Shalihin-nya yang permata; mari perhatikan karya tipisnya; Al Arba'in. Betapa berkah; disyarah berratus, dihafal berribu, dikaji berjuta manusia, & tetap menakjubkan susunannya.

.- Maka tiap kali kita bangga dengan "best seller", "nomor satu", "juara", "dahsyat", & "terhebat"; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja.

.- Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum ke mana-mana, & bukan siapa-siapa. Lalu belajar, berkarya, bersahaja.

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami yang tidak menghargai waktu ini. Ampunilah kami yang mesti bisa melakukan banyak hal untuk dakwah, tetapi kami hanya share broadcast yang tidak bermutu. Astaghfirullah al-adzim...


Ini Bahaya dari Aplikasi Gratis Smartphone

Anda memiliki smartphone? Mungkin banyak yang mengatakan iya, apalagi jika Anda seorang pelajar, mahasiswa atau pekerja. Smartphone kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anda juga tentu tidak asing lagi dengan sebuah aplikasi, baik itu game, produktivitas, dan lainnya. Di ‘pasar’ aplikasi, baik itu Play Store, Windows Store dan lainnya, tentu menyediakan dua pilihan aplikasi, yakni berbayar dan gratis.

Aplikasi-aplikasi khususnya yang gratis tentu memiliki banyak sekali kelemahan, seperti banyaknya iklan yang tampil. Namun lebih dari itu, ternyata ada bahayanya dari aplikasi gratisan yang dtawarkan oleh developer.

Aplikasi gratis yang menampilkan banyak iklan, bisa membuat kita sakit kepala, hal ini diungkapkan oleh para peneliti. Sebuah studi terbaru juga menemukan, selain iklan, aplikasi gratis ini menguras baterai ponsel Anda lebih cepat, dan menggunakan lebih banyak data.

“Iklan di aplikasi gratis menguras baterai ponsel Anda lebih cepat, aplikasi ini juga diatur berjalan lebih lambat dan menggunakan data lebih banyak,” kata William Halfond, penulis dan penelitian yang akan mempresentasikan pada Konferensi Internasional tentang Rekayasa Perangkat Lunak (ICSE) di Italia pada bulan Mei.

Bila dibandingkan dengan aplikasi tanpa iklan, para peneliti menemukan bahwa ada bahaya dari aplikasi gratis ini, di antaranya:

Aplikasi gratis yang menayangkan iklan menggunakan rata-rata 16 persen lebih banyak energi, sehingga menurunkan daya tahan baterai smartphone 2,5-2,1 jam dari waktu rata-rata.

Central Processing Unit A telepon (CPU) adalah seperti otaknya, dan iklan memakan banyak kekuatan otak, sehingga akan memperlambat dan menurunkan kinerja CPU.

Aplikasi dengan iklan mengambil rata-rata 48 persen waktu CPU, menggunakan memori 22 persen lebih besar dan 56 persen utilisasi CPU yang lebih besar (jumlah waktu CPU yang digunakan). Karena iklan sendiri merupakan sebuah konten yang telah diunggah, maka aplikasi dengan iklan menyebabkan smartphone menggunakan lebih banyak data, hingga 100 persen lebih, dalam beberapa kasus.

Rata-rata, aplikasi ini menggunakan sekitar 79 persen lebih banyak data jaringan, biaya yang keluar diperkirakan 1,7 sen setiap kali mereka digunakan–berdasarkan rata-rata biaya per MB dibebankan oleh AT & T.

Selanjutnya, Halfond mengatakan ia berharap untuk menciptakan model-model yang akan memungkinkan pengembang aplikasi untuk memprediksi, seberapa baik produk mereka akan diterima oleh masyarakat, dengan dan tanpa iklan.

“Apps adalah masa depan perangkat lunak. Pikiran bahwa kita semua akan terus mengkonsumsi perangkat lunak, daripada desktop yang ketinggalan jaman,” tambahnya. Dilansir viva.co.id
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger