Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , » MENENGOK DESA TEGALOMBO, SEBUAH DESA KRISTEN DI KABUPATEN PATI JAWA TENGAH

MENENGOK DESA TEGALOMBO, SEBUAH DESA KRISTEN DI KABUPATEN PATI JAWA TENGAH

Written By Guru Pintar on 13 November 2010 | 10.03


Hari itu, Minggu (4/7), Gereja Indjili Tanah Jawa (GITJ) Margorejo penuh dengan jemaat Kristen protestan yang sedang melaksanakan kebaktian. GITJ ini adalah gereja tertua di Desa Tegalombo Kecamatan Dukuhseti Kabupaten Pati. Bahkan merupakan gereja GITJ tertua dan tercatat paling banyak jemaatnya di Pati. Gereja ini merupakan gereja peninggalan penjajah Belanda yang melakukan misi kristenisasi di daerah sekitar Gunung Muria. Maka wajar saja jika setiap tahunnya gereja ini dikunjungi oleh banyak penginjil dari berbagai Negara terutama dari Belanda dan Australia.

Menurut pendeta Sulistiyanto yang menjadi Pelayan Tuhan di gereja ini, desa Margorejo dulunya adalah kawasan rimba. Pada sekitar tahun 1851 datanglah seorang Belanda bernama Peiter Antonio Janzs yang masuk ke daerah ini dan mendirikan desa Kristen. Misi Kristen di daerah sekitar Muria ini berhasil mendirikan banyak gereja. Di Kecamatan Dukuhseti saja ada puluhan gereja GITJ. Gereja yang sama dan sealiran ini juga berdiri di Kecamatan Tayu, Kecamatan Juwana, Kecamatan Mlonggo Jepara dan bahkan di beberapa Kecamatan di Kabupaten Kudus. Gereja-gereja di sekitar Muria itu lalu menyebut diri mereka dengan sebutan GKSM (Gereja Kristen Sekitar Muria) dan pada perkembangan selanjutnya organisasi ini berganti nama menjadi GKMI (Gereja Kristen Muria Indonesia).

Selain Peiter Janzs, orang yang paling berjasa dengan terbentuknya desa Kristen ini adalah Kyai Tunggul Wulung atau Kyai Ngabdullah Tunggul Wulung dengan nama baptis Ibrahim Tunggul Wulung. Dalam buku “Kamus Sejarah Gereja” karya Frederiek Djara Wellem pada halaman 68 disebutkan bahwa kedatangan Tunggul Wulung di daerah sekitar Muria ini lebih dulu dibanding kedatangan missionaries Belanda di daerah ini. Menurut pendeta Sulis, selanjutnya antara Belanda dengan Tunggul Wulung ini terjadi kerjasama dalam mendirikan desa Kristen ini,
“Tunggul Wulung dan Peiter Janzs bahu membahu membawa orang-orang dari luar untuk dibina dan diajarkan injil di desa ini. Mereka adalah orang-orang jahat dan para kriminal yang akhirnya menjadi pengikut kristus yang taat setelah dibina oleh Tunggul Wulung dan Janzs. Nah, penduduk yang tinggal di desa ini adalah anak keturunan mereka.”
Untuk mencapai Desa Tegalombo ini kita harus menempuh perjalanan jauh dan berkelok sepanjang sekitar 40 KM arah utara dari kota Pati. Kecamatan Dukuhseti adalah kecamatan yang berbatasan dengan kabupaten Jepara. Dari 12 desa di Kecamatan Dukuhseti, hanya Tegalombo (terutama Dukuh Margorejo) saja yang merupakan basis Kristen. Menurut Suhartono, wakil pendeta GITJ Margorejo, penduduk muslim di Margorejo hanya terdiri dari 10 KK. Tetapi menurut seorang muslim di desa tersebut penduduk dukuh Margorejo seratus persen beragama Kristen.
Satu hal yang menjadikan dukuh Margorejo menjadi basis Kristen adalah adanya tanah pesamuan di dukuh ini. Yakni tanah peninggalan Belanda yang diklaim menjadi milik jemaat gereja. Di tanah pesamuan inilah gereja memulai untuk membentuk desa Kristen. Tanah pesamuan ini sangat luas. Menurut sebuah sumber yang saya temui, luas tanah pesamuan mencapai ratusan hektar yang memanjang dari desa Tegalombo sampai ke daerah Jepara. Akan tetapi pihak gereja mengatakan tanah pesamuan ini ‘hanya’ seluas 8 hektar.
Siapapun yang menempati tanah pesamuan ini wajib hukumnya pindah ke agama Kristen, karena ia tinggal di tanah kekuasaan gereja. Karena memang tanah ini dikhususkan untuk jemaat Kristen. Konsekuensinya jika ada seorang muslim ingin tinggal di tanah ini maka ia wajib mengkonversi agamanya ke Kristen. Setiap orang Islam yang menikah dengan penduduk beragama Kristen dan ia menempati tanah pesamuan maka bisa dipastikan ia akan ikut agama pasangannya, yakni Kristen. Hal inilah salah satu yang membuat ‘panas’ orang-orang Islam di sekitar.
Karsanah (65) adalah salah satu contoh penduduk tanah pesamuan yang pindah agama dari Islam ke Kristen. Sebelum pindah ke tanah pesamuan ini ia adalah seorang muslimah yang taat. Dulunya ia adalah penduduk desa Pucangkerep, sebuah desa di sebelah barat Pasar Kliwon di Kabupaten Kudus. Setelah menikah dengan seorang lelaki asal Margorejo yang kost di rumahnya, ia pun diboyong ke desa Kristen ini. Ia mengaku bahwa awalnya tidak tahu menahu bahwa suaminya itu beragama Kristen.
Setelah sampai di desa Margorejo itulah sang suami mulai mengajaknya pergi ke gereja yang terletak tepat di depan rumahnya. Namun ia mengaku sejak menikah dengan suaminya dan sampai sekarang ia tidak pernah mau ikut suaminya ke gereja. Meskipun begitu sejak saat itu ia tidak pernah lagi melaksanakan sholat, puasa dan membaca al-Qur’an karena dilarang keras oleh suaminya.
Ketika saya tes untuk membaca surat al-Fatichah ibu Karsanah hanya sampai di ayat ketiga yakni mâliki yaumi ad-dîn ayat selanjutnya ia mengaku lupa. Ia mengaku banyak lupa dengan ajaran-ajaran Islam karena sudah puluhan tahun meninggalkannya. Padahal dulu ketika masih kecil ia sangat rajin ikut belajar di madrasah diniyah sore di Kudus. Meski begitu ketika saya tanya bagaimana perasaannya menikah dengan orang Kristen, ia dengan jujur mengatakan bahwa dalam hatinya masih saja bertuhankan Alloh dan bernabikan Muhammad,
“Jan-jane kulo niki nggih manahe taksih Allohu Akbar (sambil mengangkat tangan seperti takbir) muhammadur rasululloh ngoten menika. Rumiyin nate maos al-Qur’an yen bapake mpun sare. Tapi sakniki nggih mpun mboten saget. Mpun mboten ketingal. Mpun tuwo nak. Tapi kulo wit riyin mboten nate tindak ting gerejo kok nak. Nggih mpun pancen sampun takdire gusti nak.”
Pihak gereja membantah dengan adanya kristenisasi di desa Tegalombo ini. Kalaupun ada seorang muslim yang melakukan konversi ke agama Kristen, pihak gereja tidak pernah memaksa mereka,
“Kita tidak pernah memaksa seorang muslim untuk meninggalkan keyakinannya. Karena misi kami adalah misi damai. Islam dan Kristen sama-sama baiknya. Kalau ada orang menikah beda agama pasti kita tanya keluarga kedua mempelai, mau menikah dengan cara Islam ataukah dengan cara Kristen. Kalau mereka memilih dengan cara Islam maka kita persilahkan untuk pergi ke KUA. Kalau ada misi kristenisasi pasti desa ini tidak damai seperti ini. Anda bisa saksikan bagaimana kerukunan antara pemeluk Islam dan Kristen di desa ini kan?”
Memang kerukunan antara pemeluk Islam dan Kristen di desa ini sangat baik. Apalagi jika kita bandingkan dengan Ambon atau Poso. Hal ini diperkuat oleh Adi Santoso, Kepala Desa Tegalombo yang juga pemeluk Kristen yang taat dan anggota jemaat GITJ Margorejo,
“Kerukunan yang terjadi antar masyarakat yang berbeda keyakinan ini terjadi karena budaya jawa, yakni ramah-tamah, tepo seliro, andhap ashor, masih berjalan dengan baik di desa ini. Ditambah pula mereka masih ada hubungan keluarga. Di keluarga saya sendiri ada seorang adik yang beragama Islam. Kita rukun-rukun saja. Itu hak dia mau masuk Islam apa tetap Kristen seperti anggota keluarga yang lain. Secara prosentasi jumlah umat Islam di desa ini hanya sepertiga dari kaum Kristen yang berjumlah 4 ribuan orang. Wujud kerukunan tersebut bisa Anda lihat dengan adanya musholla yang hanya berjarak 15 meter dari sebuah gereja GITJ.”
Ketika ditanya tentang upaya aparat desa dalam menjaga kerukunan tersebut kepala desa mengatakan bahwa jika ada kaum Kristen yang ingin menyembelih hewan (kerbau, sapi, kambing, dan seterusnya) dan bermaksud diberikan kepada orang Islam juga maka hendaknya mereka memanggil Mbah Modin untuk menyembelihnya. Karena orang Islam tidak akan memakan daging hasil sembelihan orang non-Islam.

Agama Misi
Meski sudah berusaha untuk tetap rukun, akan tetapi orang Kristen di desa ini tidak bisa menyembunyikan wajah aslinya sebagai agama misi yakni keinginan mereka untuk menambah jumlah jemaat. Hal ini tampak jelas dari berbagai program untuk menarik hati umat Islam agar masuk ke agama Kristen. Diantaranya adalah pemberian gizi gratis seminggu dua sekali. Pembuatan WC dan perbaikan rumah. Pemberian beasiswa anak kurang mampu dari mulai Taman Kanak-Kanak sampai SLTA dengan donatur dari Luar Negeri. Pemberian pinjaman lunak tanpa bunga. Pemberian kursus-kursus seperti Bahasa Inggris, dan lain-lain. Dan semua itu berlangsung di gereja. Jadi mau tidak mau orang Islam yang ingin mendapatkan bantuan tersebut harus datang ke gereja.
Dalam pemberian bantuan pinjaman lunak tanpa bunga misalnya. Gereja memberikan pinjaman yang harus dicicil setiap minggu di gereja saat kebaktian berlangsung. Jadi jika seorang muslim mendapatkan pinjaman seratus ribu maka setiap seribunya diserahkan ke gereja pada hari Minggu saat kebaktian berlangsung. Artinya ia harus pergi ke gereja selama seratus hari untuk melunasi hutangnya tersebut. Akhirnya orang Islam yang lemah ekonominya pun tertarik untuk masuk agama Kristen karena tergiur harta dunia.
Program-program yang dijalankan oleh gereja pun tampaknya berhasil menarik hati umat Islam di desa tersebut. Satu per satu mereka pun masuk ke agama Kristen. Dari data penduduk tahun 2008 yang saya dapatkan dari kantor kecamatan tercatat bahwa umat muslim di desa ini ada 1.691 orang. Dan menurut seorang aparat di desa tersebut jumlah muslim itu sekarang menurun menjadi hanya sekitar 700an orang. Apakah lama kelamaan desa ini seratus persen menjadi desa Kristen? Mungkin saja. By: guruGO.blogspot.com
NB: Artikel saya ini sudah dimuat di Majalah Tabligh edisi No. 1/II-Th.VIII/Ramadhan 1431 H pada rubrik Kristologi halaman 81-83.
Share this post :

+ Komentar + 1 Komentar

4 Maret 2014 14.32

jadi teringat kisah dajjal, yg dimana mengikuti dajjal akan mendapatkan kesenangan duniawi, dan yg tidak mengikutinya maka nerkalah didunia

Poskan Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger