Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
Saya adalah saya. Bukan ayah saya. Bukan pula anak saya. Saya jangan dihargai karena 'pangkat' ayah saya. Saya juga jangan 'disamakan' dengan anak saya. Akuilah saya apa adanya.

Selamat Datang di Blog Saya, Ahlan Wa Sahlan Bihudzurikum.

Semoga blog ini bermanfaat untuk Anda. Apa hal positif dari Blog ini beritahu teman. Jika ada ada yang kurang beritahu saya agar saya bisa memperbaikinya. Boleh Copas asalkan mencantumkan alamat blog ini. Jazakumullah
Saya sangat berterima kasih Anda sudah berkunjung ke blog saya. Lebih berterima kasih lagi jika Anda meninggalkan komentar pada postingan saya baik berupa koreksi, persetujuan, maupun tambahan ilmu buat saya.
Jika Anda merasa puas dengan blog ini tolong beritahu teman atau saudara agar blog ini bisa lebih dikenal luas dan anda pun Insya' Alloh akan mendapatkan pahala karena menyebarkan kebaikan. Tetapi jika Anda tidak puas tolong beritahu saya. Maturnuwun. Terimakasih. Jazakumulloh khoiral jaza'

Anak Kecil yang Pintar nge-Blog

Kalau Anda berkunjung ke blog yang satu ini, Anda tak akan heran sebab banyak blog yang seperti itu.Tapi Anda akan kaget bila tahu bahwa si pemilik blog ternyata masih anak kecil.Dia masih kelas 5 SD ketika mulai ngeblog di gudang-html.blogspot.com.Hebat kan??

RAPORT MERAH AUDISI FILM KETIKA CINTA BERTASBIH

Saya adalah peserta audisi film Ketika Cinta Bertasbih di Jogjakarta dan di Semarang. Saat ikut audisi di Jogjakarta saya benar-benar tidak menyangka bahwa nasib saya ditentukan oleh waktu hanya 3 menit. Ketika itu dari kelompok saya (peserta audisi dikelompokkan, yang masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang) diambil 3 orang untuk lolos pada babak berikutnya.
Waktu itu saya tidak tahu kenapa saya tidak lolos pada babak pertama. Saya hanya berpikir, barangkali karena saat itu saya belum sempat berakting mengingat waktu yang tiba-tiba saja habis. Tapi saya juga bingung, di kelompok saya ada 2 orang yang pandai berakting tetapi tidak juga lolos. Sehingga saya pun bertanya-tanya, lalu kriteria penilaian yang dilakukan oleh Zak Sorga dkk apa?
Karena penasaran, saya pun ikut lagi di Semarang. Dengan bersusah payah menjangkau Masjid Agung Jawa Tengah (yang letaknya sulit dijangkau itu) saya bercita-cita meramaikan film ini. Siapa tahu wong ndeso seperti saya bisa jadi bintang film. Tapi lagi-lagi saya tidak lolos audisi yang di Semarang ini. Padahal saya sudah maksimal dalam berakting dan bahkan dengan property yang saya persiapkan. Anif dkk hanya meloloskan 2 orang dari kelompok saya yang di Semarang ini.
Setelah keluar dari kompleks Masjid saya baru menemukan jawaban yang mudah-mudahan tepat. Ternyata juri audisi hanya memilih mereka-mereka yang cantik dan tampan saja. Tidak peduli apakah ia bisa berakting ataukah tidak. Nyatanya 3 orang yang lolos dari kelompok saya di Jogja biasa-biasa saja aktingnya, sedangkan yang bagus aktingnya justru tidak lolos (karena memang kebetulan tidak cantik). 3 orang tersebut adalah dua mahasiswi CANTIK dan seorang mahasiswa TAMPAN dari kampus di Jogja.
Sedangkan 2 orang yang lolos di Semarang adalah 2 COWOK TAMPAN. Untuk yang satu memang layak lolos, karena bisa berakting. Tetapi cowok yang satu bahkan bicara pun gagap dan terbata-bata, tapi lagi-lagi karena ia tampan maka ia pun lolos.
So, bagi kamu-kamu yang pingin ikutan audisi film ini and kebetulan terlahir dengan takdir tidak nice looking, jangan bermimpi bisa lolos audisi. Tapi jika kamu kok berwajah tampan or cantik, maju saja pasti dipertimbangkan. Meskipun kamu tidak bisa berakting sekalipun.
Kesimpulan saya, ternyata tidak ada bedanya film islami dengan film non islami. Semuanya bermuara pada eksploitasi fisik. Bagi yang berpenampilan menarik silahkan berbahagia dan yang biasa-biasa saja silahkan jangan jadi artis. Apa betul begitu Kang Abik?

Salam,
Peserta Audisi Jogja dan Semarang.

Sekolah dan Dispenser

Oleh: Muhsin Suny M.

Sekolah menurut saya, adalah bagaikan dispenser. Sedangkan siswa-siswinya adalah bagaikan air. Orangtua, membawa air dalam sebuah gallon dan diletakkan di atas dispenser itu. Lalu, sesuai kebutuhannya, ia akan memencet tombol yang diinginkan. Apakah ia ingin air panas ataukah air dingin? Jika ia memencet tombol merah, maka air panaslah yang akan mengalir. Tetapi jika ia memilih tombol biru maka air dinginlah yang akan keluar.
Panas saja tidak cukup dan tidak enak untuk diminum. Maka ia pun bisa menambahkan sendiri ke dalam air panas itu teh, jahe, kopi, susu, dan sebagainya. Jika kurang manis, ia pun bisa menambahkan gula sesuai selera.
Sedangkan jika ia memilih air dingin, ia bisa saja langsung meminumnya tanpa menambahkan sesuatu di dalamnya. Tetapi tidak seorangpun bisa melarang kalau ia mau menambahkan ke dalam air itu rajangan buah-buahan, parutan kelapa muda, perasan jeruk, dan lain-lain. Tak juga ada yang melarang jika ia memasukkan ke dalamnya bahan-bahan haram seperti ciu, arak, bir, alkohol, dan sebagainya. Adalah terserah baginya mau diapakan air itu. Toh itu adalah air yang dibawa sendiri dari rumah?
Seperti dispenser, demikianlah sekolah difungsikan. Ia hanya bisa menyajikan output sesuai dengan keinginan orangtua. Jikapun sajian itu sudah sesuai dengan keinginan orangtua, bisa saja ia tidak puas dengan sajian itu sehingga ditambahkanlah materi-materi lain ke dalam sajian itu. Dispenser tidak mungkin bisa menghasilkan kopi, jahe, teh, atau susu secara langsung. Ia hanya bisa menghasilkan air panas atau digin. Ia hanya membantu menyiapkan sajian awal. Kita tidak mungkin memaksa sebuah dispenser untuk menyajikan air lezat sesuai dengan keinginan kita. Jadi sangat aneh jika ada seseorang yang menghendaki sebuah dispenser bisa secara otomatis menyajikan kopi, susu, apalagi madu.
Semuanya terserah orangtua. Sebuah institusi bernama sekolah, tidak punya kuasa apapun terhadap anak didiknya. Ia hanyalah sebuah ‘tempat penitipan’ sementara. Daripada sang anak tidak terkontrol di rumah karena orangtuanya bekerja, maka dicarilah sebuah intsitusi yang bisa membantu sang anak mencapai prestasi tertentu sebagaimana keinginan orangtua. Apa keinginan orangtua, begitulah anaknya akan menjadi. Maka tepat sekali apa yang disabdakan oleh Rasulullah:
“Tidak ada bayi yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan suci. Lalu orangtuanya menjadikannya sebagai Yahudi, sebagai Nasrani atau sebagai Majusi”.(HR al-Bukhory).
Dalam hadits di atas dapat kita lihat bahwa yang mampu merubah pribadi sang anak hanyalah orangtuanya, bukan sekolah. Artinya apa? Apapun usaha yang dilakukan oleh sekolah jika tidak didukung oleh orangtuanya di rumah, maka akan sia-sia. Di sekolah, anak mendapatkan pendidikan bahwa sorang anak kecil tidak boleh menonton sinetron remaja dan dewasa. Tetapi di rumah, anak dibiarkan begitu saja melahap tontonan apapun yang diinginkannya. Maka ketika gurunya melarangnya, ia akan berkata, “Orangtuaku sering menonton sinetron itu, jadi aku ikutan menonton. Toh orangtuaku tidak melarangku? Mengapa pak guru melarang saya?”
Pendidikan dari orangtua adalah segala-galanya. Terutama ibunya, sebagai madrasatul ‘ula (sekolah pertama) yang men-tarbiyah (mendidik dan mengasuh) sejak dari dalam kandungan sampai ia tumbuh dewasa. Sekolah tidak berarti apa-apa tanpa dukungan pendidikan di rumah dan lingkungannya. Bisa dibayangkan, seorang anak berada di sekolah paling hanya lima jam (untuk full say school mungkin bisa sampai sembilan jam). Artinya selama sembilanbelas jam (atau limabelas jam untuk yang sekolah di program full day) ia berada di luar sekolah. Selama itu, orangtuanyalah yang bertanggungjawab terhadap pendidikannya.
Di sekolah ia bisa mendapatkan pelajaran bahwa kalau bersalah harus minta maaf, kalau dibantu harus berterimakasih, kalau khilaf (berbuat dosa) harus membaca istighfar. Berlomba minjemin pensil temannya yang tidak membawa. Makan dan minum harus dengan tangan kanan, dan sebagainya. Tetapi sesampainya ia di rumah, pelajaran itu akan menguap begitu saja jika tidak diteruskan oleh orangtua dan lingkungannya. Sehingga apa yang diajarkan di sekolah mentah lagi di rumah. Akhirnya, ia pun ‘tidak pernah matang’.
Jangan sampai di sekolah diajarkan rasa empati kepada sesama temannya, tetapi di rumah ia diajarkan sifat individualis. Di sekolah diajarkan bahwa ketika ada seorang temannya yang mendapatkan musibah, maka yang melihat harus berlomba menolongnya. Karena meraka adalah saudara kita. Tetapi ketika sampai di rumah, pelajaran yang disampaikan jauh berbeda. Lewat benda laknat bernama televisi, anak-anak seolah diajarkan, “Kalau kamu melihat orang lain mendapatkan musibah, kamu hendaknya berkata: kasihaaaaaaaaaan deh lho!” So, rasa empati yang diajarkan di sekolah pun menguap dan yang tumbuh adalah sikap egois.

Dispenser Rusak
Sebagaimana dispenser, sekolah juga bisa rusak. Bagaimana sebuah sekolah bisa dikategorikan sekolah rusak? Sekolah yang rusak adalah sekolah yang hanya berfungsi sebagai tempat ‘bisnis’. Sang guru berangkat dari rumah bukan untuk mentransfer ilmunya, melainkan hanya untuk mencari penghasilan. Setiap hari yang dibicarakan di kantor tetang uang melulu. Mereka tidak pernah melakukan evaluasi apalagi inovasi pengajarannya. Alhasil, pembelajaran kacau. Yang penting target kurikulum tercapai. Masa bodoh dengan murid-muridnya apakah sudah faham dengan ilmu yang diberikan atau tidak.
Sekolah juga bisa disebut rusak jika menghasilkan murid-murid yang timpang. Tidak seimbang antara ilmu dan amalnya, atau tidak balance antara iptek dan imtaqnya. Murid-murid lulusan sekolah seperti ini mungkin pandai sekali berceramah, tetapi gagap dalam beramal. Ilmu bagi mereka hanya untuk diketahui, bukan untuk diamalkan. Sebagian dari mereka juga cerdas duniawinya tetapi sangat rapuh ukhrowinya. Sehingga banyak kita saksikan siswa yang lulus dari sekolah ini terjangkiti stress, padahal IQ-nya sangat tinggi.
Untuk sekolah-sekolah rusak seperti ini tidak ada cara lain yang bisa dilakukan dalam rangka penyelamatannya kecuali men-scan para gurunya. Bagi yang sudah sangat rusak, dengan terpaksa harus diganti guru baru. Tetapi bagi yang masih bisa diperbaiki, mereka harus diformat cara berpikirnya. Bagaimana bahwa menjadi seorang guru itu tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendidik dan mengasuh. “Menjadi guru itu laiknya parenting”, kata Shahnaz Haque.

Smart and sholih
Sekolah yang ideal adalah yang menghasilkan seorang murid yang tidak hanya kuat ukhrowinya tetapi juga mapan pengetahuan dunianya. Ia tidak hanya hafal surat-surat atau hadits-hadits tetapi juga pandai mengoperasikan computer. Mereka tidak hanya akrab dengan kitab-kitab kuning, tetapi juga tidak asing dengan internet. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Carilah apa-apa yang diberikan Allah kepadamu berupa rumah akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
“Akhlaq adalah segala-galanya,” begitu sabda Nabi. Jadi, kita jangan hanya berkeinginan anak kita menjadi smart saja. Tetapi kita mestinya juga berharap penuh anak-anak kita menjadi generasi yang sholih. Smart n sholih! Itulah yang kita inginkan. Mengapa? Karena orang smart sudah banyak di negeri ini, tetapi orang yang sholih masih sangat jarang. Oleh karena itu, jika anak kita pulang dari sekolah nanti jangan hanya ditanya,” Dapat nilai berapa tadi di sekolah?” Tetapi ia juga mesti ditanya, “Sudah menolong siapa tadi di sekolah?”

Wallahu a’lamu bis showab. Wastaghfirullahal ‘adzim.


*) Tulisan disampaikan pada pertemuan wali murid SDIT Muhammadiyah al-Kautsar Sabtu, 25 Maret 2007

Mendidik Anak Dengan Asal

Oleh : Muhsin Suny M., S.S.


Sebenarnya, banyak dari kita selaku orangtua belum benar-benar siap mendidik anak. Banyak sekali materi pendidikan yang kita berikan kepada anak hanyalah berbentuk teori. Kita seolah lupa bahwa, teori tanpa praktek adalah kosong. Atau sebagaimana pepatah Arab yang mengatakan, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kassyajaroti bilâ tsamarin, ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.
Pendidikan yang kita berikan kepada anak kita tidak pernah memiliki konsep yang utuh. Kita seringkali memisahkannya secara parsial. Seperti, kita terlalu percaya dengan pendidikan yang diberikan di sekolah, sehingga kita melepas mereka begitu saja. Ujung-ujungnya, jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, kita lalu menuding sekolah sebagai terdakwa utama yang tidak becus mendidik anak.
Anak adalah sebuah ‘benda’ ajaib. Ia mampu merangkum segala materi pendidikan yang diterima dengan berbagai cara dan dari berbagai segi. Sebagaimana kata Ki Hajar Dewantoro, pendidikan seorang anak meliputi tiga sentra yakni, keluarga, masyarakat, dan sekolah. Akan tetapi menurut saya, sentra itu perlu ditambah satu lagi yakni, televisi.
Bahkan menurut saya, televisi lebih berbahaya daripada masyarakat sekitar kita. Mengapa? Karena televisi memiliki banyak sekali karakter kasar yang tidak bisa kita bendung.
Katakanlah, kita memiliki tetangga yang suka bertindak kasar. Jika kita tidak ingin anak kita meniru perilaku kasar tetangga kita itu, dengan mudah kita bisa melarangnya bermain di sana. Tetapi di dalam kotak ajaib ini terkandung banyak karakter kasar yang tidak bisa kita usir begitu saja.
Kita biasanya kesulitan untuk mengontrol anak kita agar tidak melihat ini atau itu di layar televisi. Padahal, setiap jenis orang masuk ke rumah kita—tanpa permisi—lewat televisi. Orang Jakarta, Surabaya, Medan, Batak, Amerika, Afrika, Australia, bahkan makhluk luar angkasa dan makhluk ghaib pun semua memenuhi ruang keluarga di rumah kita. Mereka memerankan berbagai karakter yang nantinya akan ditiru oleh anak-anak kita. Pasti. Karena keahlian anak adalah meniru apa yang dilihatnya.
Selain itu, dari iklan yang ada di televisi, anak kita sudah terbiasa mengkonsumsi produk-produk asing yang memakai merk lokal. Sebutlah beberapa nama perusahaan milk asing yang memakai merk lokal seperti Danone (Aqua, Biskuat, dll), H.J. Heinz (Kecap ABC), Unilever (Sariwangi, Bango, Taro, dll), Cambell (Helios, Nyam-nyam, dll), Cocacola (Ades, Cocacola, dll), Numico (susu SGM).
Bahkan menurut sumber yang dapat dipercaya, dalam setiap rupiah penghasilan produk-produk keluaran Danone dibelikan peluru untuk membantu bangsa Yahudi dalam membasmi saudara-saudara kita umat Islam di berbagai negara. Artinya jika sampai saat ini kita tetap mengkonsumsi produk mereka, berarti kita juga secara tidak langsung ikut membunuh saudara kita sendiri. Naudzubillah !

Pentingnya Teladan
Pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang diberikan lewat contoh langsung. Lewat teladan yang thayyib anak akan belajar langsung bagaimana bersikap. Jika kita selaku orangtua sudah terbiasa dengan, misalnya, makan dengan tangan kiri, mengunyah makanan atau minum sambil berdiri, maka begitulah anak kita akan menirunya. Percuma kalau kita menyuruh anak kita berbuat baik, padahal kita sendiri baru belajar melakukannya.
Anak adalah cerminan orangtuanya. Ibarat CD yang kosong, orangtua bebas mengisinya dengan apapun. CD itu bisa diisi data-data penting, ayat-ayat kauniyah, bahkan sampai—naudzubillah—adegan porno. Anak akan pasrah begitu saja mengikuti apa mau kita. Maka tidak heran kalau Nabi saw bersabda :
“Tidak ada bayi yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (Shohih Bukhary hadits nomor 1270)
Orangtua yang biasa berkata kasar dan suka marah-marah di rumah maka kelak anaknya pun akan meniru bagaimana cara berkata kasar dan marah orangtuanya.
Nabi adalah contoh yang paling baik dalam hal mendidik anak. Jangankan marah, berlaku kasar kepada anakpun beliau tidak pernah.
Suatu hari Rasulullah pernah menggendong anak seorang sahabat. Tiba-tiba ketika digendong itu, anak tersebut kencing, sehingga mengenai baju Rasulullah. Seketika sang ibu anak tersebut, mengambilnya dengan kasar. Ibu itu jengkel dan malu karena anaknya sudah ‘mengencingi’ Rasulullah.
Tetapi bagaimana reaksi Rasulullah? Beliau justru membela si anak dan mengkritik perilaku ibunya. Beliau berkata : “Kencing ini bisa dengan mudah aku cuci dengan air, tetapi perlakuanmu yang kasar itu akan diingat terus oleh anakmu.”

Popok Ajaib
Popok ajaib atau disebut juga dengan diapers adalah benda yang sangat dipuja-puja oleh para ibu. Mengapa ? Karena popok ajaib itu selalu ikhlas dipipisi—bahkan di-e’e’-i—bayi kapan saja si bayi mau.
Dengan popok ajaib itu si ibu tidak perlu repot-repot mengganti celana bayi yang terkena pipis. Dengan popok ajaib itu juga si ibu juga selalu tenang menggendong si bayi kapan saja, karena ia tidak khawatir dipipisi oleh bayinya.
Akan tetapi dibalik ‘keajaiban’ itu ternyata terkandung pelajaran buruk. Pertama, dengan menggunakan popok ajaib, berarti kita telah mentoleransi najis. Padahal salah satu penyebab siksa kubur adalah karena tidak membersihkan bekas kencing di kemaluan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : “Pada suatu hari Rasulullah melalui dua kubur; Rasul saw menerangkan bahwa kedua isi kubur itu sedang disiksa, bukan karena mengerjakan perbuatan (dosa) yang besar. Yang seorang disiksa karena tidak membersihkan kencing dan yang seorang lagi karena memfitnah.” (HR. al-Jama’ah)
Hadits ini, menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi menunjuk kepada najisnya kencing manusia dan mewajibkan kita menjauhkan diri daripadanya, yakni membersihkan diri dan menyatakan bahwa membasuh kencing itu perbuatan yang tidak boleh disepelekan. Karena tidak membasuhnya akan membawa pelakunya kepada azab yang pedih.
Memang hadits ini bukan untuk bayi. Tetapi pendidikan mengenai kesucian dan kebersihan sebagai bagian dari pendidikan kepribadian dimulai semenjak mereka masih bayi. Adalah kewajiban kita untuk mendidiknya dalam menghayati kesucian dan kebersihan, untuk dirinya sendiri maupun masyarakat yakni antara lain dengan rela untuk dipipisi.
Hendaknya kita dengan rela menceboki anak kita dan mensyukuri nikmat Allah walaupun harus menggunakan tangan kita yang bersih dan halus (karena memakai lotion). Jadi bukannya dengan menyerahkan kepada diapers yang akan mengajarkan kepada anak untuk mentoleransi najis.
Selain mengajarkan kepada anak untuk mentoleransi najis, terutama bagi kakak si bayi yang sudah mulai mengerti, diapers yang menampung dan meresap pipis bayi juga memiliki beberapa kekurangan lain. Pertama, kesempatan untuk mengasah kepekaan orangtua—terutama ibu—menjadi kurang. Ibu tidak bisa merasakan kepekaan kapan anaknya akan pipis atau Be A Be dari melihat isyarat non verbalnya, misalnya perubahan ekspresi wajah anak.
Kedua, pemakaian diapers mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengendalikan diri (‘iffah) sebagai bagian dari pendidikan kepribadian. Anak dimanja untuk membuang kotoran kapan saja dia mau, tanpa perlu belajar disiplin dan mengendalikan keinginan. Jika untuk membuang kotoran saja ia tidak belajar mengendalikan keinginan; jika dalam masalah ini saja anak belajar untuk tidak malu dan risih, maka bagaimana ia belajar terhadap hal-hal yang lebih besar ?

Ketiga, kita dengan tega-teganya menghambur-hamburkan uang untuk barang yang lebih fana dan lebih merusak lingkungan di saat belasan orang di Gunung Kidul Yogyakarta harus mati bunuh diri karena putus asa menghadapi kekeringan.
Perlu diketahui bahwa pada setiap diapers yang Anda pakaikan kepada anak, dibutuhkan resin polietilen (sejenis plastik) untuk membuat lapisan anti bocor pada dasar popok agar tidak merembes sampai ke baju ibunya. Lapisan plastik ini baru akan hancur setelah 300 sampai 500 tahun kemudian !!! Jadi, kalau Anda membuang sebuah diapers hari ini, maka ketika Indonesia sudah 100 kali berganti presiden, diapers itu belum rusak. Masya Allah !


Penulis adalah Guru SDIT Muhammadiyah al-Kautsar Gumpang Kartasura Solo Jawa Tengah
Daftar Bacaan :
Abu Al-Ghifari, Perangkap Yahudi, Bandung : Mujahid Press, 2003.
Anif Punto Utomo, NEGARA KULI : Apa lagi yang kita punya ?, (Jakarta : Penerbit Republika, Desember 2004).
Kutubut Tis’ah
M. Fauzil Adhim, Tidak Setiap Kita Siap Mendidik Anak, Yogyakarta 2 Oktober 1997.
Majalah Ummi, No. 04/XI Agustus-September 1999/1420 H.
Muhsin Suny M, Bermain Yes !, Nonton TV No!, Solo, 3 Oktober 2004.

Kurang Gerak Bahayakan Otot

Kurang gerak dapat membuat otot penyangga dan pelindung tulang belakang menjadi lemah. Hal itu terungkap setelah peneliti asal Australia melakukan pemantauan terhadap sebuah kelompok responden berisikan 19 pemuda. Mereka menghabiskan delapan minggu di tempat tidur.

Bahaya yang sama juga menghantui mereka yang terlalu lama menonton televisi atau bekerja di depan komputer. Sakitnya dikatakan sama hebatnya dengan cedera fisik. Pada penelitian sebelumnya terungkap kasus yang paling sering terjadi adalah sakit pada punggung bagian bawah.

Pada orang-orang dengan deskripsi aktivitas tadi, otot penyangga tulang belakangnya tidak aktif. Dalam beberapa kasus dua set otot malah tidak bekerja. Sekitar 15 persen kasus disebabkan oleh kerja angkat berat, pukulan cambuk, dan salah urat.

Meski begitu, bagi kebanyakan orang penyebab sakit di bagian punggung bawah tetap menjadi misteri. Terlebih setelah dokter tidak berhasil mencari penyebabnya. Berdasarkan penelitian teranyar ini kemungkinan besar rasa sakit itu datang dari kurang gerak dalam kurun waktu yang lama.

“Soalnya, otot lunak dan tulang perlu dilatih agar vitalitasnya terjaga,” kata Robert Moor dari Adelaide Centre Spinal Research.

Peneliti dari University of Queensland melihat orang yang menghabiskan waktu delapan minggu di kasur memliki masalah otot yang sama dengan pasien sakit punggung bagian bawah. Lewat Magnetic Resonance Imaging (MRI) terlihat jelas otot tulang belakang mereka sudah tidak aktif.

“Memulihkannya kembali bukanlah pekerjaan mudah,” kata Juli Hides, anggota tim peneliti.
Pemulihan otot agar menjadi aktif, lanjut Hides, tidak bisa dilakukan hanya dengan mulai berlatih. Beberapa responden yang dipantau berlatih selama enam minggu malah belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. “Temuan ini sangat masuk akal,” komentar Moor.

Sumber Republika : Sabtu, 28 Agustus 2004

Kebebasan Ada Batasnya


JAKARTA-Kaum liberal-radikal di Indonesia bisa lebih liberal dari sumbernya di dunia Barat. Misalnya, dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, di sini cenderung over acting dan menghina intelektualitas dengan menghendaki tiada batas serta menafikan moralitas. Padahal di barat, masyarakatnya sadar betul bahwa kebebasan ada batasnya sehingga mereka mau mawas diri dengan membuat pagar-pagar tentang kebebasan berekspresi.

Demikian benang merah diskusi tentang kebebasan berekspresi terkait dengan maraknya tayangan televisi dan film di Indonesia yang cenderung destruktif, di Jakarta, Kamis (2/9). Diskusi diselenggarakan Forum Budaya Nusantara, dengan pembicara Ade Armando (Komisi Penyiaran Indonesia/KPI), Imam Tantowi (sutardara), Imran Hanafi (Gerakan Peduli moral bangsa/GPMB), Erna Libi (artis), dan moderator Taufa B Nahrawardaya (Indonesian Crime Analysis Forum/ICAF).
Ade Armando mengemukakan, Indonesia masih jauh dari peradaban modern yang benar. Di negara paling liberal, seperti Amerika, pun pada titik tertentu, kebebasan berekspresi menghadapi pembatasan. “Seniman kita harusnya pada sadar bahwa tidak ada kebebasan berkespresi di dunia ini yang boleh mengekspresikan apa pun,” katanya.

Imran Hanafi berharap pemerintah tidak lepas tangan. Tetapi, ikut menengahi dan bersikap tegas terhadap tayangan yang merusak moral dan budaya luhur bangsa. “Sehingga, masyarakat tidak perlu berkonflik untuk menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Imam Tantowi yang sudah membidani 400-an film dan sinetron, mengatakan, produk hiburan untuk televisi dan film mestinya dibuat dengan kreativitas tinggi. Tidak mengeksploitasi selera rendahan.
“Tapi umumnya, kreativitas yang dituntut adalah kreativitas produser yang semangatnya hanya supaya film laku,” kata sutradara yang berani menolak membuat adegan seks.

Tuntutan produser juga tergantung pada sikap sutradara dan pemain. Namun, bagi pendatang baru yang sedang membangun eksistensi, seringkali menyerah pada tuntutan tersebut.
“Kalau menolak, mereka bisa tidak mendapat uang atau diusir produser,” kata Imam.
Ia pernah bertanya pada produser yang hobi membuat adegan pornografi dan pornoaksi. Apakah anaknya diblehkan menonton filmnya itu? Dijawab si produser bahwa ia melarang anaknya untuk menonton.

“Jadi, anak sendiri dilarang, tapi anak orang lain dibuatnya rusak dengan film yang dibuatnya.”
Ade menambahkan, pornografi sudah menjadi asalah dunia. Protes berlangsung dimana-mana. Mereka melancarkan penolakan terhadap eksploitasi seks lewat media massa, televisi, dan film. Ironisnya, sejak 2001, Indonesia ada yang menyebut sebagai surga kedua pornografi setelah Rusia.
“Bukan berarti seks itu buruk. Tapi, jika dieksploitasi lewat media, bisa berefek negatif terhadap masyarakat, terutama perempyuan yang selalu menjadi objeknya,” tutur Ade.

Film Buruan Cium Gue, dinilai Ade melulu mengeksploitasi masalah seks lewat perkataan dan adegan ciuman kaum remaja. Maka, film produksi Multivision Plus ini, layak mendapat protes dari masyarakat yang peduli pada moral bangsa.

“Protes yang dilakukan Aa Gym merupakan embrio untuk gerakan moral masyarakat di masa depan. Ini tidak akan mengancam kebebasan berkespresi yang sehat,” katanya.
Sekitar empat tahun terakhir, menurut Ade, film nasional sebenarnya mengalami kebangkitan dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Namun, kehadiran BCG telah merusak prestasi film-film sebelumnya yang diterima oleh masyarakat.

Produser BCG dianggapnya terjun dengan mendompleng dan memanfaat kemajuan dunia film nasional yang laku di pasar. Tetapi, dia tidak berangkat dari awal dengan siap merugi untuk membangun situasi kondusif dunia perfilman.
Sumber : Republika Jum’at, 3 September 2004

DEWA 19 DAN YAHUDI

Mengapa dalam album - album grup musik Dewa 19 banyak simbol aneh??
Apakah benar Ahmad Dhani keturunan Yahudi??,
Apa yang sebenarnya terkandung dalam lirik2 lagu Dewa 19??
Sebenarnya saya (penulis) tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan2 diatas, tetapi setelah mencermati buku berjudul "Fakta & Data Yahudi di Indonesia" karangan Ridwan Saidi & Rizki Ridyasmara (Februari 2006) dan buku "Talmud, Kitab Hitam Yahudi Yang menggemparkan" karangan M.A Syarkawi (cetakan edisi Indonesia, 2005).
Saya merasa mempunyai beban moral untuk menyebarluaskan informasi ini kepada public, karena melihat sepertinya hanya kalangan tertentu di Indonesia yang paham tentang bahaya Yahudi. Dengan tulisan ini , saya berharap lebih banyak pihak yang concern. Sebelum membahas tentang group musik Dewa, saya akan memberikan kutipan yang saya ambil dari buku (Talmud,......) diatas:

1) Bangsa Lain Selain Yahudi adalah Bagaikan Binatang
Dalam Kitab Talmud Yerusalem halaman 94 disebutkan:"Air mani yang darinya tercipta bangsa-bangsa lain yang berada diluar agama yahudi adalah air mani kuda"
Dalam Midrash Talpioth (Vol 225d) dijelaskan bahwa kaum non Yahudi adalah hanya berbeda bentuk dengan binatang.
Kitab Zohar (I,131a) ...sejak adanya mereka, maka dari itu, semua manusia non Yahudi mengotori alam, karena roh mereka lahir dari bagian yang najis.
Sanhendrin (74b) Tosepoth berbunyi: Hubungan seksual orang Goim (orang non Yahudi) adalah seperti hubungan seksual binatang.
Talmud, Kitab 6 Bab 8 butir ke 9: Sesungguhnya Talmud mewajibkan atas setiap orang yahudi untuk melaknat orang Kristen tiga kali dalam sehari, dan berdoa agar membasmi dan menghancurkan raja-raja serta para pemimpin mereka. Juga diwajibkan kepada orang Yahudi untuk merampas harta mereka dengan cara apapun.

2) Bangsa Yahudi mempunyai rencana besar untuk menguasai seluruh umat manusia dimuka bumi, kemudian membuat mereka bertindak secara sadar atau tidak sadar menjadi pelayan Yahudi yang derajatnya dianggap sama dengan binatang.

3) Banyak strategi yang dilancarkan oleh kaum Yahudi yang berkedok Kemanusiaan, Dialog Lintas Agama, Hak Asasi Manusia, Bea Siswa, Penyebar luasan simbol Yahudi dll, yang semuanya merupakan tak-tik belaka untuk meraih tujuan akhir mereka. Strategi penyebarluasan simbol Yahudi di masyarakat kita ternyata sudah dalam tahap yang memprihatinkan. Simbol Yahudi tanpa sadar telah di gunakan pada aksesories, kaos, cover kaset dll.
Kita sudah mengetahui bahwa sebuah simbol / gambar bisa berarti lebih dari seribu kata kata. Ternyata, salah satu grup musik papan atas di Indonesia yaitu DEWA telah secara konsisten menyebarkan simbol Yahudi dari mulai album pertama mereka DEWA 19 (1992), TERBAIK-TERBAIK (1995), THE BEST OF DEWA 19 (1999), BINTANG LIMA (2000), CINTAILAH CINTA (2002), ATAS NAMA CINTA I & II ( 2004), dan LASKAR CINTA (2004) Simbol Yahudi dengan cerdik diletakkan dengan berbagai cara dan hanya bisa dilihat dengan cara cara tertentu. Ada yang dibuat terbalik, disamarkan, diputar dan hanya bisa dibaca didepan cermin Sebelum membahas lebih jauh tentang simbol, kita perlu ketahui siapa sebenarnya Ahmad Dhani Manaf, sang komadan grup musik ini. Dalam Album Laskar Cinta, Dhani menulis sebagai berikut : DHANI THANKS TO : ....., JAN PIETER FREDERICH KOHLER ( THANKS FOR THE GEN ) ...,
Siapakah JAN PIETER FREDERICH KOHLER?? Merunut silsilah keluarga, pemilik nama tersebut ternyata ayah dari ibu kandung Ahmad Dhani, alias kakeknya. Ibunya sendiri bernama Joyce Theresia Pamela Kohler. Jan Pieter Frederich Kohler adalah orang Yahudi Jerman. Secara jujur Dhani berterima kasih atas gen Yahudi yang ia terima dari sang kakek. (THANKS FOR THE GEN). Bisa jadi karena kebanggaannya mewarisi gen dari opa-nya.

A. SIMBOL-SIMBOL YAHUDI YANG BANYAK TERDAPAT PADA ALBUM DEWA:
1) Dhani sering tampil dipanggung dengan memakai kalung Bintang David (simbol Zionis-Israel).
2) Pada cover album pertama DEWA 19, terdapat gambar Piramida Tak Sempurna (Unfinished Pyramid). Piramida tersebut terpancung dibagian ujungnya. Lambang tersebut sudah dikenal luas sebagai salah satu lambang Yahudi (lambang gerakan Masonis - salah satu organisasi Yahudi, dan juga lambang tsb pada uang 1 dollar Amerika). Dan untuk diingat, dalam mitologi Judaisme angka "19" dikenal sebagai "Dark Star" (Bintang Kegelapan). Jika dicermati dengan seksama, cobalah untuk memperbesar gambar puncak pyramid yang ditutupi kabut (misalnya dengan program Windows Picture & Fax Viewer, puncak piramid itu di zoom-in (+) beberapa kali), maka terlihat dipuncak piramid itu-walau agak samar, ada sesuatu yang tidak lancip, malah berwarna gelap yang cenderung berbentuk bulat yang bisa jadi merupakan bola, lingkaran, atau juga bisa sebuah mata.
3) Dalam album "TERBAIK TERBAIK",
Pertama, secara jelas dimuat simbol Dewa Ra (Dewa matahari dalam mitologi Mesir Kuno). Dalam agama Yahudi (Judaisme) Dewa Ra diklaim sebagi salah satu Tuhan mereka. Pada Sinagog (rumah ibadah Yahudi) lambang ini lazim di pajang.
Kedua, terdapat pula lembaran satu Protocol Of Zions (Ayat-ayat Iblis) dalam bahasa Ibrani. Untuk menyamarkan, Protocol of Zions dalam cover album ini diletakkan secara terbalik horizontal. Yang sisi kiri dipindah kekanan dan sebaliknya. Untuk membacanya hadapkan dulu ke depan cermin.
Ketiga, terdapat foto empat personil Dewa tengah berdiri dibawah gambar lingkaran dengan satu titik di tengahnya (Circle with a dot), gambar ini dikenal sebagai symboll occultism/organ perempuan yang merupakan gerakan pemuja setan dan dianggap juga sebagai penjelmaan simbol mata setan(The Evil Eye),. Berikut ini cuplikan dari Bulletin Masonis (organisasi Yahudi): Since the Satanist worships the Sex Act, he must have a symbol of the female organ, to go along with male organ- the Obelisk. And , indeed, Satanist do have a symbol of the female organ - the Circle. And, when a point is added to the middle of the circle, you have the complete sex act, the male being the point and the female being the circle (Point With A Circle" Masonic Short Talk Bulletin, August, 1931, Vol.9,No.8, Reprinted July,1990, p.4) Bagi anda pengguna Macromedia Fontographer 4.11/9/99. Anda bisa lihat Occult Symbol yang berpola huruf Ibrani, terdapat "circle with a dot"
4) Dalam cover Album THE BEST OF DEWA 19 (1999),
Pertama, Secara kasat mata ada dua lambang yang dimuat: adalah tulisan tangan italic yang ditumpuk jadi satu sehingga membentuk garis lurus. Satu garis horizontal, satunya lagi vertical, dan saling bersilangan seperti salib miring. Cover berbentuk horizontal ini baru memiliki arti jika diberdirikan atau diputar 90 derajat kearah kiri (lihat tanda panah biru di sudut kanan bawah cover tsb, itu bukan sekedar gambar panah tapi suatu instruksi) agar ´pesan´nya sampai.. Dikepala salib terdapat gambar personil Dewa yang jika dicermati membentuk sebuah bulatan. Ini sama dengan symbol okultisme yang terdapat dalam lambang Dewa Horus.
Kedua, Juga dicover depan. Di sudut kiri bawah ada gambar kepala seorang gadis dengan rambut panjang terurai, dikepala si gadis seolah ada pusaran air. Jika diperbesar maka akan terlihat bahwa "pusaran air" dan rambut si gadis itu sesungguhnya adalah mata dari Dewa Horus.
Ketiga, dipermukaan cakram digital (CD) juga berisi symbol okultisme Dewa Horus (juga ada tanda panahnya)
Keempat, dicover yang berisi lirik lagupun, jika di rotasi 90 derajat akan terlihat simbol yang sama.. Garis putih yang ada diatasnya hanya sebagai ´pengelabuan´, namun intinya adalah garis saling menyilang seperti salib dengan lingkaran di bagian atasnya
5) Dalam cover Album BINTANG LIMA (2000), Gambar sayap dengan hati di tengah dimuat utuh dengan latar belakang empat personil Dewa. Simbol ini lajim dipakai sebagai salah satu simbol gerakan perkumpulan Teosofie Yahudi. Ritual pengikut Teosofi biasanya mengadakan upacara pemanggilan arwah atau jin.
6) Dalam cover Album CINTAILAH CINTA (2002),
Pertama, Cover depan album ini memuat secara menyolok simbol Eye of Horus. Horus adalah Dewa Burung dalam Mitologi Mesir Kuno yang diklaim sebagai salah satu dewa mereka.
Kedua, Dicover dalam juga ada simbol yang sekilas mirip mata, yang merupakan contekan habis salah satu simbol yang terdapat dalam buku The secrect Language of Symbol yang disarikan dari kitab Yahudi, Taurat. Simbol ini biasa disebut Femina Geni Vegia atau kelamin perempuan.
Ketiga, Dibagian lain juga ada gambar mata setan. Keempat, Dipiringan disc-nya jika dicermati bergambar kepala burung dengan simbol mata Horus. Yang merupakan salah satu simbol dari gerakan freemasonry.
7) Dalam cover Album CINTAILAH CINTA I & II (2004),
Lambang sayap yang merupakan lambang resmi Dewa dimuat dalam album live ini dengan latar belakang hitam kelam. Seperti hal nya Album Bintang Lima (2000), album ini juga mengunakan sayap simbol Teosofi dengan makna yang sama.
8) Album : LASKAR CINTA (2004), Inilah album ke tujuh Dewa yang akhirnya menjadi "batu sandungan" dan membuka selubung semua album-album dewa sebelumnya yang sarat dengan kampanye symbol dan lambang Yahudi Tipologi huruf "Laskar Cinta" yang dibalik, ternyata diambil dari huruf Ibrani (huruf yang digunakan dalam Kitab Yahudi) Gambar siluet wajah Ahmad Dhani pakai peci dengan tulisan berpola Arabic bertuliskan "Ahmad".
Benarkah bertuliskan Ahmad??, mengapa huruf alif-nya ada cabang? Padahal alif itu lurus tidak bercabang. Jelas bukan suatu kekhilafan. Jika gambar itu dibalik 180 derajat, tulisan Arabic yang semula seakan berbunyi "Ahmad" menjadi huruf Arabic yang terdiri dari konsonan semua dengan huruf : YHWH, alias "YaHWeh, alias Tuhan Tertinggi Yahudi. Believe it or Not??
B. LIRIK LAGU DEWA YANG BERMASALAH:
Pertama, Lirik kagu "Sweetest Place"adalah sebuah lirik penantian akan ratu adil, penantian akan datangnya sesuatu, yang bisa membuat kehidupan menjadi menyenangkan. Dan yang dinanti adalah: MATA (I´am welcoming an eye/ Into the darkest one / It tells me not to worry...) Ratu adil itu adalah MATA. Menurut teologi Yahudi (Kabbala), The eye atau Mata merupakan mata Lucifer, Sang Pangeran Penguasa Kegealapan sekaligus Sang Penguasa alam raya.
Kedua, Dalam Album Laskar Cinta , ada sebuah lagu berjudul "SATU". Syairnya bagaikan kerinduan yang teramat sangat seorang kekasih kepada pujaan hatinya. Benarkah ??, Ternyata TIDAK. Syair lagu tersebut merupakan manifestasi dari paham sesat "Wihdatul Wujud" (bersatunya mahluk dengan pencipta). Dibawah syair lagu tersebut pada versi kaset terdapat ucapan terima kasih kepada Al Hallaz. Adapun pada versi CD nya terdapat ucapan terima kasih kepada : Syekh Lemah Abang. Keduanya adalah ulama sesat penganut Wihdatul Wujud. Siapapun yang pernah membaca sejarah Walisanga pasti tahu bahwa Syekh Lemah Abang adalah nama lain dari Syekh Siti Jenar. Jika Syekh Siti Jenar diperintahkan untuk dipenggal kepalanya oleh Walisanga, bagaimana dengan Dewa??, tentu tidak demikian..
TAHUKAH ANDA ?
* Kebencian Yahudi terhadap semua bangsa selainnya membuat mereka menganggap bangsa bangsa lain itu tidak pantas menyandang gelar "manusia".
* Prioritas utama kebencian orang Yahudi adalah orang Kristen karenanya adanya dendam kesumat antara keduanya yang bersumber dari dasar-dasar kedua agama tersebut. Namun jika mereka kesulitan mendapatkan darah orang Kristen (untuk ritual mereka), maka darah orang Islam pun bisa dijadikan gantinya.
* Orang Yahudi biasa mengajari anak mereka sedari kecil untuk mengucapkan cacian jika melewati gereja, Yaitu: "sakis nadanisid bayadan nadi binikhi sharabrim ila yim" artinya: "jadilah ini daerah haram tempat kotor untuk dua kotoran, dan tempat keji bagi orang-orang keji dan najis".
PENUTUP: Tulisan diatas bukan dibuat atas dasar kebencian atau kedengkian atau bermaksud mengadu domba. Melainkan atas dasar fakta
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger