Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , , , » Mendidik Anak Dengan Asal

Mendidik Anak Dengan Asal

Written By Guru GO on 01 Juli 2008 | 05.39

Oleh : Muhsin Suny M., S.S.


Sebenarnya, banyak dari kita selaku orangtua belum benar-benar siap mendidik anak. Banyak sekali materi pendidikan yang kita berikan kepada anak hanyalah berbentuk teori. Kita seolah lupa bahwa, teori tanpa praktek adalah kosong. Atau sebagaimana pepatah Arab yang mengatakan, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kassyajaroti bilâ tsamarin, ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.
Pendidikan yang kita berikan kepada anak kita tidak pernah memiliki konsep yang utuh. Kita seringkali memisahkannya secara parsial. Seperti, kita terlalu percaya dengan pendidikan yang diberikan di sekolah, sehingga kita melepas mereka begitu saja. Ujung-ujungnya, jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, kita lalu menuding sekolah sebagai terdakwa utama yang tidak becus mendidik anak.
Anak adalah sebuah ‘benda’ ajaib. Ia mampu merangkum segala materi pendidikan yang diterima dengan berbagai cara dan dari berbagai segi. Sebagaimana kata Ki Hajar Dewantoro, pendidikan seorang anak meliputi tiga sentra yakni, keluarga, masyarakat, dan sekolah. Akan tetapi menurut saya, sentra itu perlu ditambah satu lagi yakni, televisi.
Bahkan menurut saya, televisi lebih berbahaya daripada masyarakat sekitar kita. Mengapa? Karena televisi memiliki banyak sekali karakter kasar yang tidak bisa kita bendung.
Katakanlah, kita memiliki tetangga yang suka bertindak kasar. Jika kita tidak ingin anak kita meniru perilaku kasar tetangga kita itu, dengan mudah kita bisa melarangnya bermain di sana. Tetapi di dalam kotak ajaib ini terkandung banyak karakter kasar yang tidak bisa kita usir begitu saja.
Kita biasanya kesulitan untuk mengontrol anak kita agar tidak melihat ini atau itu di layar televisi. Padahal, setiap jenis orang masuk ke rumah kita—tanpa permisi—lewat televisi. Orang Jakarta, Surabaya, Medan, Batak, Amerika, Afrika, Australia, bahkan makhluk luar angkasa dan makhluk ghaib pun semua memenuhi ruang keluarga di rumah kita. Mereka memerankan berbagai karakter yang nantinya akan ditiru oleh anak-anak kita. Pasti. Karena keahlian anak adalah meniru apa yang dilihatnya.
Selain itu, dari iklan yang ada di televisi, anak kita sudah terbiasa mengkonsumsi produk-produk asing yang memakai merk lokal. Sebutlah beberapa nama perusahaan milk asing yang memakai merk lokal seperti Danone (Aqua, Biskuat, dll), H.J. Heinz (Kecap ABC), Unilever (Sariwangi, Bango, Taro, dll), Cambell (Helios, Nyam-nyam, dll), Cocacola (Ades, Cocacola, dll), Numico (susu SGM).
Bahkan menurut sumber yang dapat dipercaya, dalam setiap rupiah penghasilan produk-produk keluaran Danone dibelikan peluru untuk membantu bangsa Yahudi dalam membasmi saudara-saudara kita umat Islam di berbagai negara. Artinya jika sampai saat ini kita tetap mengkonsumsi produk mereka, berarti kita juga secara tidak langsung ikut membunuh saudara kita sendiri. Naudzubillah !

Pentingnya Teladan
Pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang diberikan lewat contoh langsung. Lewat teladan yang thayyib anak akan belajar langsung bagaimana bersikap. Jika kita selaku orangtua sudah terbiasa dengan, misalnya, makan dengan tangan kiri, mengunyah makanan atau minum sambil berdiri, maka begitulah anak kita akan menirunya. Percuma kalau kita menyuruh anak kita berbuat baik, padahal kita sendiri baru belajar melakukannya.
Anak adalah cerminan orangtuanya. Ibarat CD yang kosong, orangtua bebas mengisinya dengan apapun. CD itu bisa diisi data-data penting, ayat-ayat kauniyah, bahkan sampai—naudzubillah—adegan porno. Anak akan pasrah begitu saja mengikuti apa mau kita. Maka tidak heran kalau Nabi saw bersabda :
“Tidak ada bayi yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (Shohih Bukhary hadits nomor 1270)
Orangtua yang biasa berkata kasar dan suka marah-marah di rumah maka kelak anaknya pun akan meniru bagaimana cara berkata kasar dan marah orangtuanya.
Nabi adalah contoh yang paling baik dalam hal mendidik anak. Jangankan marah, berlaku kasar kepada anakpun beliau tidak pernah.
Suatu hari Rasulullah pernah menggendong anak seorang sahabat. Tiba-tiba ketika digendong itu, anak tersebut kencing, sehingga mengenai baju Rasulullah. Seketika sang ibu anak tersebut, mengambilnya dengan kasar. Ibu itu jengkel dan malu karena anaknya sudah ‘mengencingi’ Rasulullah.
Tetapi bagaimana reaksi Rasulullah? Beliau justru membela si anak dan mengkritik perilaku ibunya. Beliau berkata : “Kencing ini bisa dengan mudah aku cuci dengan air, tetapi perlakuanmu yang kasar itu akan diingat terus oleh anakmu.”

Popok Ajaib
Popok ajaib atau disebut juga dengan diapers adalah benda yang sangat dipuja-puja oleh para ibu. Mengapa ? Karena popok ajaib itu selalu ikhlas dipipisi—bahkan di-e’e’-i—bayi kapan saja si bayi mau.
Dengan popok ajaib itu si ibu tidak perlu repot-repot mengganti celana bayi yang terkena pipis. Dengan popok ajaib itu juga si ibu juga selalu tenang menggendong si bayi kapan saja, karena ia tidak khawatir dipipisi oleh bayinya.
Akan tetapi dibalik ‘keajaiban’ itu ternyata terkandung pelajaran buruk. Pertama, dengan menggunakan popok ajaib, berarti kita telah mentoleransi najis. Padahal salah satu penyebab siksa kubur adalah karena tidak membersihkan bekas kencing di kemaluan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : “Pada suatu hari Rasulullah melalui dua kubur; Rasul saw menerangkan bahwa kedua isi kubur itu sedang disiksa, bukan karena mengerjakan perbuatan (dosa) yang besar. Yang seorang disiksa karena tidak membersihkan kencing dan yang seorang lagi karena memfitnah.” (HR. al-Jama’ah)
Hadits ini, menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi menunjuk kepada najisnya kencing manusia dan mewajibkan kita menjauhkan diri daripadanya, yakni membersihkan diri dan menyatakan bahwa membasuh kencing itu perbuatan yang tidak boleh disepelekan. Karena tidak membasuhnya akan membawa pelakunya kepada azab yang pedih.
Memang hadits ini bukan untuk bayi. Tetapi pendidikan mengenai kesucian dan kebersihan sebagai bagian dari pendidikan kepribadian dimulai semenjak mereka masih bayi. Adalah kewajiban kita untuk mendidiknya dalam menghayati kesucian dan kebersihan, untuk dirinya sendiri maupun masyarakat yakni antara lain dengan rela untuk dipipisi.
Hendaknya kita dengan rela menceboki anak kita dan mensyukuri nikmat Allah walaupun harus menggunakan tangan kita yang bersih dan halus (karena memakai lotion). Jadi bukannya dengan menyerahkan kepada diapers yang akan mengajarkan kepada anak untuk mentoleransi najis.
Selain mengajarkan kepada anak untuk mentoleransi najis, terutama bagi kakak si bayi yang sudah mulai mengerti, diapers yang menampung dan meresap pipis bayi juga memiliki beberapa kekurangan lain. Pertama, kesempatan untuk mengasah kepekaan orangtua—terutama ibu—menjadi kurang. Ibu tidak bisa merasakan kepekaan kapan anaknya akan pipis atau Be A Be dari melihat isyarat non verbalnya, misalnya perubahan ekspresi wajah anak.
Kedua, pemakaian diapers mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengendalikan diri (‘iffah) sebagai bagian dari pendidikan kepribadian. Anak dimanja untuk membuang kotoran kapan saja dia mau, tanpa perlu belajar disiplin dan mengendalikan keinginan. Jika untuk membuang kotoran saja ia tidak belajar mengendalikan keinginan; jika dalam masalah ini saja anak belajar untuk tidak malu dan risih, maka bagaimana ia belajar terhadap hal-hal yang lebih besar ?

Ketiga, kita dengan tega-teganya menghambur-hamburkan uang untuk barang yang lebih fana dan lebih merusak lingkungan di saat belasan orang di Gunung Kidul Yogyakarta harus mati bunuh diri karena putus asa menghadapi kekeringan.
Perlu diketahui bahwa pada setiap diapers yang Anda pakaikan kepada anak, dibutuhkan resin polietilen (sejenis plastik) untuk membuat lapisan anti bocor pada dasar popok agar tidak merembes sampai ke baju ibunya. Lapisan plastik ini baru akan hancur setelah 300 sampai 500 tahun kemudian !!! Jadi, kalau Anda membuang sebuah diapers hari ini, maka ketika Indonesia sudah 100 kali berganti presiden, diapers itu belum rusak. Masya Allah !


Penulis adalah Guru SDIT Muhammadiyah al-Kautsar Gumpang Kartasura Solo Jawa Tengah
Daftar Bacaan :
Abu Al-Ghifari, Perangkap Yahudi, Bandung : Mujahid Press, 2003.
Anif Punto Utomo, NEGARA KULI : Apa lagi yang kita punya ?, (Jakarta : Penerbit Republika, Desember 2004).
Kutubut Tis’ah
M. Fauzil Adhim, Tidak Setiap Kita Siap Mendidik Anak, Yogyakarta 2 Oktober 1997.
Majalah Ummi, No. 04/XI Agustus-September 1999/1420 H.
Muhsin Suny M, Bermain Yes !, Nonton TV No!, Solo, 3 Oktober 2004.
Share this post :

Poskan Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger