Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , , , , , , » Bukan Sekedar Cinta

Bukan Sekedar Cinta

Written By Guru GO on 15 Januari 2014 | 08.30

Lika-Liku Poligami Anis Matta (Bagian Ketiga)




Bagian ini adalah lanjutan dari Bagian Kedua: Debat Tentang Poligami

Ini bagian ketiga, tentang sesuatu yang kita sebut "jatuh cinta". Tentang sesuatu yang tak mungkin berpura-pura. Tapi siapakah yang "Jatuh?" Siapakah yang memulai dan siapakah yang terjerumus mengagumi atau "merasa". Bagian ini seperti sulit, kecuali kalau kita mengenal Jen sejak lama. Aku mengenalnya sejak kuliah di UI.

Jen sejak awal menonjol. Ketekunannya membaca sudah kusaksikan sendiri dan kemampuannya menulis dan bicara masyhur. Tapi mungkin yang orang tidak tahu banyak adalah kemampuannya mengendalikan diri dan emosinya. Itu rahasianya. Maka sebagai sekjen partai 4 periode itulah yang nampak. Sekretariat dan daya dukung kepada partai terkendali. Soal cinta, dia menulis "serial cinta" setelah menulis "serial kepahlawanan". Tapi apa yang ia tulis? Ia bukan perangkai kata omong kosong...tulisannya itu mengakar pada karakter dan kepribadiannya.

@anismatta telah lama menjurubicarai pikirannya dan sebaliknya pikirannya menjadi jubir bagi karakternya. Maka jadilah dia pesona di mata banyak orang dan aku yakin itu yang terjadi pada Szilvia Fabula. Gadis itu mencintainya entah kapan mulainya. Dia tak mungkin jujur kepadaku. Ini soal di antara mereka. Tapi ini tentu jadi cerita di antara kami karena pernyatan cinta Szilvia tak mungkin dijawab senda gurau.

INI SOAL SERIUS sebab ujung dari percintaan yang dewasa adalah pernikahan. Sesuatu yang tak gampang. Sepanjang bulan-bulan dimana diskusi itu berlangsung, Jen tidak mengira kalau gadis muallaf itu akan jatuh cinta padanya. Sebab sejak awal @anismatta selalu menyebutkan kalau dia sudah berkeluarga dan punya 7 anak..(ampun deh)

JEN BUKAN orang yang suka sembunyi atau samarkan identitas semisal mengaku bujang. Karenanya sejak awal @anismatta yakin itu tidak akan masuk dalam logika orang Eropa seperti Szilvi menjadi istri kedua. Apalagi gadis muallaf itu tentu punya banyak pilihan di negerinya sendiri ketimbang jadi istri kedua. Sekali lagi, buat @anismatta situasi ini sangat tidak mudah. Berdasarkan situasi waktu itu tidak sederhana. Ada percampuradukan masalah ditingkat Jen, Szilvia, keluarganya dan juga posisinya sebagai pejabat.

Sesungguhnya Jen kasihan dengan Szilvia...bagaimana keputusan besar itu ia buat...apa dia mengerti resiko? Apa dia mengerti bahwa dia harus menyesuaikan diri di Indonesia yang nun jauh dari keluarganya Hongaria? Pada diri Jen ada banyak pertanyaan, Bagaimana harus meyakinkan Anaway (istri pertama–ed) dan ketujuh anak-anaknya? Ini tetap sangat berat meski saya tahu dia tidak pernah menyembunyikan hal-hal seperit ini darI keluarganya. Dalam percakapan kami sebelum itu kalau kami bercanda, Anaway selalu menjawab ketus, "Ngomong doang!". Tahu kan artinya, namanya juga laki-laki. Kalau ditantang balik memang kami keok. Sampai sekarang aku masih sering keok.

Anaway luar biasa, entahlah bagaimana ia bisa sampai pada keputusan mengijinkan perempuan lain ada di rumahnya. Jen masih punya banyak masalah, Bagaimana pula harus meyakinkan kedua orangtuanya yang masih hidup dan tinggal bersamanya? Bukankah papa daeng dan mama daeng (begitu mereka menyebut orangtuanya) adalah pasangan monogami? Karena aku ingat diriku sendiri, ibuku karena sayang dengan mantu maka bercandapun (tentang poligami) aku kena plotot.

Jadi isteri kita sebagai mantu yang baik perasaannya dijaga mertuanya. Tamatlah riwayat kita. mau apa lagi? Hehe.. Itu tentu juga terjadi pada Anaway dan itu yang mempersulit langkah sang sekjen. Dan sebagai sekjen, bagaimana hal ini harus dibicarakan di internal partai? Khususnya dengan ketua Majelis Syuro? Dan akhirnya sebagai politisi, bagaimana ini akan mempengaruhi jalan hidup dan karir politiknya? ini tentu dipikirkan.

Jadi, Perkawinan kedua ini pada dasarnya benar-benar tidak terbayangkan bagi Jen. Terlalu banyak masalah. Ribet mas.... Hampir tidak terlihat celah bagi @anismatta untuk membuat perkawinan ini jadi kenyataan. Penulis cinta limbung... Daftar kendalanya terlalu banyak, melebihi kemampuannya untuk melampauinya..kalau saya sih mending lempar handuk..

SZILVI sendiri rupanya tidak mudah juga sampai pada kesimpulan...keberanian menyatakan cinta. Sebab dia juga tahu konsekwensi dari perasaannya. Ini termasuk perasaan yang berbahaya. Subversif! TAPI sejak awal memang sudah tampak kagum dengan Jen tapi cintanya mungkin berkembang perlahan selama diskusi-diskusi itu.

Perkenalannya dengan Jen nampaknya juga penemuan makna hidup yang dia cari tapi sekaligus penemuan pasangan hidup..hehe... Menemukan makna hidup pada seseorang yang menjalani makna itu dalam kesehariannya..mungkin itu awalnya... Tapi menjadi istri kedua? Bagaimana itu mungkin? Szilvia juga bingung dan seperti Jen juga tidak punya bayangan. Nah loh...

TAPI mungkin buat Szilvia bertemu Jen seperti menemukan permata yang hilang, sayang kalau hilang (Gubraaak). Bagi orang Eropa menemukan teman bicara yang sepadan memang merupakan karunia, apalagi yang terasa tulus dan setia. Budapest, kota tempat dia sehari-hari hidup, orang-orang seperti tak lagi bertegur sapa. Mungkin juga karena gak kenal. Entahlah sebab perasaan tentang masa kecil, kota kelahirannya di Bakescaba dan Budapest tempat ia kerja semua berpengaruh. Jadi ketemu manusia jenis lain macam kami ini juga anugerah buat dia. Aku, Jen, Irel sang kakak dan Aboe si cucu nabi. Selain Jen, kamilah yang sering ditemui Szilvia...Jen kami yakini gak boleh jalan sendiri...ntar ilang. Kecil-kecil gitu jangan main-main dia Sekjen Partai Islam Terbesar di Dunia..hehe...

Tapi ini tentang Szilvia, ia merasa mendapatkan karunia itu, tapi jalan menuju pelaminan benar-benar tidak terbayangkan. TAPI APAKAH Szilvia tak memikirkan Anaway? Apakah cinta tak mempertimbangkan perasaan orang lain? Ini memang bukan soal Szilvia ini soal Jen dan Anaway. Apakah ada masalah di antara mereka? Apakah ini cheating? Inilah yang harus dibikin clear..aku tidak tahu dimensi diskusi antara Anaway dan suaminya. Setahuku, mereka tidak pernah pecah...merekalah pasangan yang serasi dengan anak yang banyak. Ini keluarga happy.

Bahwa mereka berdiskusi soal poligami sebagai wawasan aku tahu. Sebab di kalangan aktivis itu biasa. Dan bagiku sendiri di dalamnya ada misteri dan ada banyak salah paham. Cie...kayak berani aja...hehe... Bercandaan kayak gitu itu ya termasuk salah paham..sebab ada yang melihat poligami untuk gagah gagahan aja... Terutama laki-laki..kalau sudah ngomong poligami dan ngomong sunnah Nabi SAW dah kayak dia yang nabi...dan sanggup. Sunnah yang lain nggak pernah dikerjain. Giliran poligami duh..."ini sunnah Rosul dan tidak boleh ditolak!"

Biasanya pakai nambah dalil segala.." Barang siapa yang menolak sunnah Rosul maka tidak termasuk ummatnya". Bener sih, tapi kan jadi maksa...makanya kan poligami hampir hak ada kisah suksesnya...ini kan soal cinta juga lah. DIALOG searah yang memaksa tidak terjadi di rumah Jen. Mereka semua sekeluarga terlibat diskusi unik. Mereka terbuka. Karena itu Anaway sebagai isteri dan anak-anaknya semua terlibat. Ini soal bersama. Tak boleh ada yang terpaksa.

Sejak awal perkenalan, Jen sudah menceritakan soal manajer toko sovenir yang dia temui itu kepada Anaway. Cerita yang dimaksud tentu soal pencariannya dan diskusi yang berlanjut. Itu biasa, anak-anak juga nimbrung. Justru itu harusnya menjadi bagian dari keterbukaan, "giue perlu tau dong laki gue ngobrol ma siapa", itu logat Anaway.

Tentu, perempuan tetap perempuan tapi Anaway juga punya latar keluarga yang besar. Seperti umumnya Sulawesi. Di keluarga Anaway isu poligami ini bukan barang baru, karena kakeknya dari ibu juga beristri 3 dan tinggal serumah. Ayah Anaway, alm Thoha Mansyur adalah mantan anggota DPR RI selama 17 thn dari Fraksi Golkar (1971-1987).

Thoha Mansyur adalah salah seorang tokoh perintis pemekaran Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Beliau juga ikut sebagai salah satu perintis berdirinya beberapa perguruan tinggi Negeri di Papua dan Sulawesi. Ayahanda Anaway lulus dari Gajah Mada dan kawan seangkatan almarhum Amir Murtono, mantan ketua Umum Golkar. Bahkan pada hari pernikahan Anis dan Anaway pak Amir Murtono memberi sambutan mewakili keluarga Anaway.

Bersama almarhumah istri pak Amir Murtono ibunda Anaway juga ikut mendirikan pengajian Al Hidayah di bawah Golkar. Jadi Anaway Irianti Mansyur itu berasal dari keluarga politik. Bahkan Golkar sebagai kekuatan utama Orde Baru. Anis dan Anaway menikah sebagai sesama aktivis dakwah saat mrk masih sama-sama kuliah (dari sononya dah nekat). Anis kuliah di Fakultas Syariah LIPIA sementara Anaway di Universitas Negeri Jakarta yang dulu benama IKIP.

Mereka hanya berkenalan sepekan dan @anismatta langsung melamar Anaway. Keluarga Anaway tentu saja kaget setengah mati. Tapi entah dengan cara bagaimana Anaway akhirnya berhasil meyakinkan keluarganya dan perkawinan mereka berlangsung 3 bulan kemudian. Mereka menikah tahun 1992, hingga kini (2013) mereka dikarunia 4 orang puteri dan 3 orang putera.

Di awal nikah dulu saya bertetangga. Anaway dan suaminya dengan latar keluarga seperti itu dari dulu sama, mereka tak mengalami perubahan berarti. Memang anak tambah banyak. Ini memang khas aktifis. Dugaan saya karena mereka pasangan yang terlalu akrab. Umunya kan mereka tidak mengenal hiburan dan akhirnya isteri jadi korban...(hehe becandaaaa). Banyak pasangan yang meyakini dan senang melihat anak banyak, saya kira itu hak pribadi dan keluarga.

JEN dan saya kira Anaway termasuk yang senang banyak anak. Saya lupa kalau gak salah Anaway hamil 10 kali. Itu pula yang terjadi sekarang Anaway benar-benar memiliki anak 10 karena Szilvia sudah melahirkan 3 anak. APAKAH karena itu Anaway mudah takluk dan menerima Szilvia tinggal di rumahnya? Sebenarnya faktor yang akhirnya membuat Anaway mengizinkan Anis menikah adalah kepercayaannya pada takdir.

Ini memang rumit karena di zaman materialisme sekarang apa masih ada yang mau percaya takdir? Kenapa tidak melawan? Anaway yakin saja bahwa kalau memang ada takdirnya, tidak ada yang bisa menghalangi @anismatta menikah dengan Szilvi. APA YANG MAU DILAWAN? Terus, untuk apa melawan? Untuk ego? Emang hidup bisa kita atur semua oleh kita? Aku juga mencoba membaca kenapa Anaway, perempuan bugis ini bisa tidak melawan? Apa kek gitu....

Aku teringat nenekku hajjah Tampawan Hasan. Perempuan Mandar. Aku tak tahu ia isteri ke berapa...belasan. Menurut cerita, kakek kami bersaudara...pengelana. Dan dimana mereka berhenti di situ mereka menikah. Maka sepanjang Sunda kecil mereka menikah dan "meninggalkan jejak keluarga"; Bali, Lombok, Sumbawa. TIBALAH mereka di Sumbawa pada perhentian ke-3 mereka menemui Nenekku yang masih belia, 15-17 tahun menurut cerita.

KAKEK KAMI sudah berusia 60 tahun atau jelang 60-an. Suatu perbandingan umur yang mencolok. Itulah zaman. KAKEK dari abah menikahi gadis sasak dan kakek dari ibu menikahi Datuk Tambawan, gadis Mandar anak opas hasan. Pernikahan dengan gadis Mandar itu melahikan ibuku Nurjannah sebagai anak pertama, anak perempuan. Zaman itu, ini berita buruk. Sebab rupanya salah satu yang membuat kakekku berkelana adalah karena anak perempuan.

Konon, setiap anak perempuan pertama lahir maka kakek memutuskan pindah rumah...dia kecewa atau apa tak jelas. Saya jadi mengerti kenapa begitu banyak istrinya dan kenapa umumnya anak yang ditinggal perempuan. Saya pernah mengelilingi semua anak kakekku di Lombok. Umumnya mereka bibiku dan tak sedikit dalam keadaan sulit. Sekarang kita kembali ke gadis Mandar yang kampungnya tak jauh dari kampungnya Anis atau Anaway. Dia beda! Ada satu adegan yang sering diceritakan keluarga. Karena ini menjadi alasan kenapa nenekku paling banyak anaknya.

Kakek mulai menunjukkan gelagat tidak betah dan nenek mulai mengerti situasi dalam keadaan menyapih bayi pertamanya. Suatu pagi, kakek pamit. Dan nenek yang sedang memeluk bayinya (ibuku sekarang masih hidup alhamdulillah). Nenek menunjukkan reaksi tidak suka. Tapi kakek seperti memaksa. Maka, saat itulah keluar reaksi monumental nenek.

Dia rupanya memegang belati, dan ibu muda belum 20 tahun itu mengacungnya sambil memeluk bayi yang menangis keras. Dia mengancam suaminya, "Berani keluar rumah, perutmu aku robek!". Kalimat itu pecah di antara tangis ibu dan bayinya. Sejarah kini mencatat Kakek tak "keluar rumah" sampai akhir hayatnya dan nenekku memberinya banyak anak.

Aku pengagum nenek dan ibuku. Aku pengagum perempuan kuat. Dalam kerangka itu aku lihat Anaway. Dia hebat. Aku bisa mengerti sikap Datuk Tampawan karena ia melihat situasi. LELAKI TUA INI HARUS DISTOP. Aku yakin itu cinta. Mungkin cinta nenek tak banyak yang paham, melampaui zaman. Dia hebat, kelak ketika Masyumi masuk ke Sumbawa nenek jadi Jurkam.

Bersambung ke bagian selanjutnya..... Poligami Bagian dari Takdir
Share this post :

Poskan Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger