Terjemahkan Blog Ini

Headlines News :
Home » , , , , , , » Penentu Terakhir: Ijin dari Majlis Syuro

Penentu Terakhir: Ijin dari Majlis Syuro

Written By Guru GO on 15 Januari 2014 | 09.04

Lika-Liku Poligami Anis Matta (Bagian Keenam)






Bagian ini adalah lanjutan dari bagian sebelumnya: Beda Poligami Bung Karno dan Anis Matta

Kepalaku panas..tak bisa aku berhenti memikirkan seorang sahabat sekaligus bos...@anismatta. Jen yang sekarang  jadi Den tetap bos ku...aku panggil saja Jen...sebab kadang-kadang aku ingin menjadi prajurit. Iya, aku prajurit dari imajinasinya yang melayang dan aku harus melayang terkadang. Siap Jenderal! Di sela-sela Zikir di Baitullah, di Tanah Suci aku ingin dengan niat baik menulis pernikahan Jen dan Isterinya Szilvia.
AKU INGIN mengungkap kebesaran hati Anaway...tidak untuk menakuti perempuan lain. Hanya sebagai kisah. AKU INGIN menulis sedikit yang kutahu tentang Szilvia yang kukenal sebagai manajer toko di Budapest.

MANAJER TOKO DARI BUDAPEST yang kemudian menjadi muslimah pendamping Jen. Aku ingin bersaksi bahwa kisah ini bukan fiksi. Ini kisah nyata. Tentang orang-orang yang meyakini takdir. Ini kisah tentang hidup yang rumit maka kita sederhanakan saja dalam kepasrahan kepada Allah.

Ini kisah tentang keberanian membuka topeng dan mencemooh kepalsuan simbolik sehari-hari yang mengangkang. Yang kusenangi dari Jen bukan nekadnya seperti dulu waktu kecil pergi ke puskesmas khitan sendirian naik angkot. Aku senang karena dia adalah sedikit dari orang yang membuatku bisa merenung panjang. Aku, kalau sudah punya mau dan aku yakin bisa menjebol tembok batu aku akan tabrak. Tidak peduli satu dunia.

Jen adalah sedikit dari orang yang bisa membuatku belok atau bertahan sebentar. Menyuruhku berpikir ulang. Kembali ke kisah pernikahan Jendral @anismatta yang rada-rada mirip nagabonar. Dia ada slebornya juga (piss hehe). Akhirnya mufakat tercapai antara Anaway, Szilvi dan Jen. Cinta ini harus dibawa ke Pelaminan..(tambah popcorn). Mereka bertiga merasa mantap untuk melangkah lebih jauh, waktu untuk saling mengenal rasanya sudah cukup.

Jangan lupa bahwa sebagian dari percakapan ketiganya juga berlangsung lewat email dan kadang telepon. SZILVIA dalam dialognya juga menyampaikan keinginannya melihat Indonesia. Juga ingin belajar Islam di sini. Tapi baru pada kunjungan ke tiga ke Budapest Jen mengijinkan Szilvia datang ke Jakarta. SZILVIA TENTU SENANG. Proses ini tidak semata-mata demi pernikahan. Tidak ada janji pasti, istikhoroh masih terus dijalankan. Kepastian dari Allah.

Seperit apa akhirnya perjalanan mereka kami semua tidak tahu. Cinta manusia ini sedang menanti penyelesaian takdir.  Mengantisipasi semua kemungkinan itu Jen mengajukan sebuah kesepakatan yang tidak akan merugikan siapapun di kemudian hari.  Szilvi diberi kesempatan untuk berkunjung ke Jakart selama 2 pekan. Selama itu Szilvi adalah tamu Jen, dan hanya tamu. Szilvia diminta bertemu dengan istri, anak-anak, ayah, ibu dan keluarga @anismatta serta merasakan kehidupan umum di Indonesia.

Jika dalam masa 2 pekan itu mereka bertiga sepakat untuk lanjut, maka pernikahan itu bisa dilaksanakan saat itu juga.  Jika salah satu pihak tidak setuju, khususnya Szlvi atau Anaway, maka Szilvi kembali ke Budapest seperti tak pernah ada apa-apa.

Aku tahu maksud Jen, ini soal akurasi dan perhitungan matang....ini bukan langkah sembarangan... Waktu itu aku tahu, salah satu opsinya jika gagal dan Szilvia kembali ke Budapest maka resiko ditanggung Jen.  Jangan lupa bahwa meskipun risiko ditanggung bersama tapi rasanya perjalanan Szilvia paling jauh.  Maka jika gagal Jen akan menanggung biaya hidup selama 2 tahun (bukan bulan) sesuai dengan jumlah pendapatan Szilvia saat itu.

Itu karena Szilvi meninggalkan pekerjaannya, bahkan mendapatkan tawaran pekerjaan baru yang jauh lebih baik. Saya mendengar sebuah perusahaan mobil di Eropa menawarnya dengan gaji 4 kali gaji lamanya. Tapi dia sudah bulat. Jadi dengan menanggung biaya hidup selama 2 tahun jika pernikahan batal Jen ingin mengapresiasi pengorbanan gadis muallaf itu.

Semua sepakat dan semua deal disetujui. Tinggal melaksanakan sesuai rencana mereka bertiga. Tapi ada satu hal yang belum disampaikan dan belum selesai. Yaitu soal ijin ketua Majelia Syuro. MASIH ingat kan soal ijin yang ditolak tahun 2002? Kan belum ada ijin baru. Lalu bagaimana caranya? Aku tahu Jen pasti pilonnya keluar tapi pilon yang ada hitungannya (nah loh..belom pernah denger kan?) Dengan ringannya dia menjelaskan posisinya di partai. Dan bahwa kalau ketua MS gak setuju maka semua batal. Kasarnya, meski mereka bertiga sudah sepakat tetapi jika partai memutuskan tidak maka semua batal.

Mungkin tidak gampang bagi Szilvi untuk mengerti situasi itu tapi iya menerima juga sebagai bagian dari proses. Dia sudah siap. Terasa betul nuasa cinta dan kepasrahan dalam proses menuju pernikahan itu. Tak ada deskripsi lain yang layak. Ada cinta manusia, ada disiplin organisasi dan semua dibalut dalam kepasrahan kepada takdir. Kalau ada jodoh pasti ada jalan. Ada antisipasi lain yang dilakukan @anismatta bagaimana jika pernikahan itu berantakan di tengah jalan? Mungkin saja.

Jadi Jen mengajukan syarat, jika mereka menikah maka selama 2 tahun pertama tidak ada buku nikah dan tidak ada anak. No paper no children untuk 2 tahun pertama adalah antisipasi kalau mereka merasa tidak cocok karena berbagai sebab yang mungkin saja terjadi. Seandainya sebelum 2 tahun mereka bercerai tidak ada masalah legal yang rumit bagi mereka bertiga..itu salah satu pertimbangan.

Szilvi juga akan lebih mudah mendapatkan suami baru karena tidak punya bawaan yang lebih kompleks. Tapi jika itu terjadi Jen @anismatta akan tetap menanggung biaya hidup selama beberapa tahun yang bisa mereka sepakati kemudian.  Jen kelihatannya memang terlalu rigid dan antisipatif..tapi sebagai orang Eropa Szilvi malah menyukai sikap itu.

Ketika akhirnya Szilvi tiba di Jakarta @anismatta menyambutnya dengan kalimat "welcome to the junggle". Szilvi tersenyum mendengarnya sambil bertanya kenapa disambut begitu? Apakah kau nervous? Kata Jen serius, "Sebab hidup tidak akan mudah bagimu dan bagi kita semua setelah hari ini"..provokator ulung. "Benar juga sih, sebab jika kita tidak  jadi menikah kita akan menanggung rindu dan kecewa dalam waktu yang lama", kata Szilvia. AMPUUN.

"Tapi jika jadi menikah kita juga akan menanggung beban hidup yang tidak ringan," Samber sang Jen, kayak dialog sinetron.  Ada beban emosi, beban sosial, beban politik dan tentu saja beban keuangan..semua akan mereka tanggung. Perkenalan dengan keluarga Jen berjalan dengan baik sejak kedatangan Szilvi..semua keluarga dan anak-anak tak ada masalah. TAPI JANGAN lupa, izin pimpinan Partai belum keluar. Tuan sekjen sudah janji kepada kami bahwa itu syarat mutlak.

Bersambung ke bagian selanjutnya.....Istri Pertama Anis Matta Seorang Wanita yang Luar Biasa
Share this post :

Poskan Komentar

Anda merasa mendapatkan KEBAIKAN dari postingan ini? SILAHKAN BERKOMENTAR secara santun, bijak, dan tidak menghakimi. TERIMAKASIH telah sudi meninggalkan komentar di sini. Semoga hidup Anda bermakna. amin...

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Guru GO! - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger